Beranda BERITA UTAMA Dita Febrianto Otak Serangan Bom Gereja, Ketua JAD Surabaya

Dita Febrianto Otak Serangan Bom Gereja, Ketua JAD Surabaya

BERBAGI

Dita Febrianto dan istrinya Puji Kuswati. Keduanya tewas dalam aksi bom bunuh diri, Minggu kemarin di Surabaya (Ist)

SURABAYA, kabarpolisi.com – Sosok Dita Febrianto, ayah empat anak yang menjadi dalang di balik ledakan bom bunuh diri di tiga gereja yang tersebar di wilayah Surabaya, Jawa Timur, diketahui merupakan ketua kelompok terorisme Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya.

Terungkapnya Dita Febrianto sebagai ketua kelompok terorisme JAD setelah polisi menyelidik latar belakang pria yang memilik empat orang anak itu.

“Kelompok pelaku satu keluarga terkait sel JAD yang ada di Surabaya. Dia adalah ketuanya Dita ini,” kata Kapolri Jenderal Polisi Muhammad Tito Karnavian pada konfrensi pers di RS Bhayangkara, Surabaya, Jatim, Minggu, 13 Mei 2018.

Kapolri menjelaskan, kelompok terorisme JAD-JAT sendiri merupakan kelompok yang mendukung penuh pergerakan dari kelompok ISIS. Di indonesia, kelompok JAD dibentuk dan dipimpin oleh pria bernama Aman Abdurahman yang saat ini telah ditangkap pihak kepolisian.

“Di indonesia kelompok ini dibentuk atau dipimpin oleh Aman Abdurahman yang sekarang ditahan di Mako Brimo,” kata jenderal bintang empat kelahiran Palembang Sumatera Selatan ini.

Para pelaku bom bunuh diri di tiga Gereja yang berada di kota Surabaya, Jawa Timur, diketahui berjumlah enam orang yang memiliki hubungan keluarga.

Terungkapnya hubungan para pelaku bom bunuh diri itu dapat diketahui setelah polisi berhasil mengidentifikasi identitas para pelaku terorisme tersebut.

“Para pelaku diduga merupakan satu keluarga,” ucap Tito.

sosok ibu berinisial Puji Kuswari dan dua anak perempuan yang bernama Fadila Sari dan Vamela Rizkita meledekan bom bunuh diri di gereja GKI Diponegoro.

“Sebelumnya dia (Duta) mengedrop istrinya dan dua putrinya. Untuk ledakan di Pantekosta bom diletakan dimobil yang kemudian ditabrakan, kemudian untuk yang di gereja GKI itu tiga-tiganya mengenakan bom yang dilekatkan di pinggang,” kata Tito.

Sementara, ledakan bom bunuh diri yang terjadi di Gereja Santa Maria Tak Bercela dilakukan oleh kedua anak laki-laki dari Duta yang bernama Yusuf Fadil dan Irman Ali dengan menggunakan bom yang dibawa menggunakan sepeda motor.

Sayangnya, saat ini polisi belum bisa memastikan karena dalam insiden itu bom yang digunakan telah hancur berkeping-keping.

“Ini masih diselidiki dan belum jelas bom apa karena bom itu pecah tapi ledakannya cukup besar,” kata Tito.

Hasan Azhari