BERBAGI

Ucok Lasdin Silalahi

TANJUNGPINANG, kabarpolisi.com – Raja Ali Haji sang Bapak Bahasa Indonesia yang jadi pemersatu bangsa dan Pahlawan Nasional adalah sosok yang sangat dikagumi Kapolres Tanjungpinang AKBP Ucok Lasdin Silalahi.

“Bahasa Indonesia tidak muncul begitu saja ke permukaaan. Bahasa Indonesia merupakan salah satu ragam dari bahasa Melayu. Perubahan menjadi bahasa Indonesia sendiri diawali sejak dicanangnya Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928,” kata Kapolres Tanjungpinang kepada kabarpolisi.com pekan lalu di Tanjungpinang.

Alumnus Akpol tahun 1998 mengungkapkan hal itu setelah mengunjungi makam Raja Ali Haji di Pulau Penyengat, Tanjungpinang. Ucok memerintahkan jajarannya merapikan penerangan dan kebersihan di lokasi makam itu.

“Raja Ali Haji (RAH) yang dijuluki sebagai Bapak Bahasa Indonesia. Tokoh ini terkenal lewat karya sastranya Gurindam Dua Belas. Beliau adalah Pahlawan Nasional dan putra Tanjungpinang. Saya sangat mengagumi sosok beliau,” kata Ucok Lasdin Silalahi.

Menurut Kapolres yang dikenal dekat dengan masyarakat itu, Raja Haji Ali Haji membuat sebuah pedoman yang menjadi standar bahasa Melayu yang merupakan cikal bakal Bahasa Indonesia.

Raja Ali Haji

“Berkat jasanya, Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada beliau pada 10 November 2004,” Ucok menambahkan.

Karena itu Ucok tak sungkan turun dengan anak buahnya ke makam tokoh asal Kepulauan Riau tersebut. “Kewajiban kitalah menjaga dan merawat makam tersebut. Kita tak akan mampu membalas jasa Raja Ali Haji,” kata perwira menengah polisi yang sukses menurunkan tingkat kriminalitas di Ibukota Provinsi Kepulauan Riau tersebut.

Ucok menjelaskan, RAH adalah putra dari Raja Ahmad dan cucu dari Raja Haji Fisabililah (saudara dari Raja Lumu, Sultan pertama dari Selangor). RAH juga merupakan keturunan dari prajurit Bugis yang datang di daerah Riau pada abad ke-16. Ayahnya sendiri bergelar Engku Haji Tua setelah melaksanakan haji ke Mekkah.

Dilahikan di keluarga yang terpandang membuat RAH tertarik dengan dunia sastra. Ayahnya, Raja Ahmad sangat menghargai pendidikan. Selain itu, RAH juga mendapat ilmu bahasa pada tahun 1822 saat mengikuti ayahnya pergi ke Betawi. “RAH juga menimba ilmu di Mekkah sekaligus berhaji pada tahun 1828. Di Makkah, RAH belajar bahasa arab dan ilmu agama,” kata Ucok Lasdin Silalahi.

Dalam laman yang didedikasikan untuk biografi RAH, rajaalihaji.com, pujangga melayu ini sudah dipercaya menempati posisi pemerintahan yang cukup strategis. Pada tahun 1845, RAH menjadi penasehat agama di Kesultanan Riau-Lingga. Pada saat inilah RAH sangat produktif dalam menulis sastra, pendidikan dan kebudayaan.

Karya terkenalnya, Gurindam Dua Belas lahir pada tahun 1846. Karya ini dipublikasikan oleh E. Netscher pada tahun 1854. Selain itu, Bustan al-Kathibin ditulis pada tahun 1857 di Betawi.

Karyanya yang menjadi acuan bahasa melayu adalah Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Loghat Melayu-Johor-Pahang-Riau-Lingga. Buku ini merupakan kamus satu bahasa pertama yang ada di Indonesia saat itu. Buku ini sendiri ditetapkan sebagai pedoman Bahasa Indonesia dalam Kongres Pemuda 28 Oktober 1928.

Tanggal meninggalnya RAH masih banyak diperdebatkan. Dilansir dari laman biografinya, ada sumber yang menyatakan RAH meninggal pada 1872. Tapi ada juga yang menyatakan RAH meninggal di Pulau Penyengat pada 1873. Pujangga ini dikebumikan di pemakaman Engku Putri Raja Hamidah. Untuk mengenang jasanya, karyanya Gurindam Dua Belas diukir di batu nisannya.

“Bahasa persatuan ini akan tetap dinamis berkembang sesuai kebutuhan masyarakat Indonesia. Sebagai generasi milenial kita harus bisa menghargai bahasa Indonesia. RAH sudah memberikan kontribusi besar terhadap bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia. Di tengah globalisasi ini, generasi muda harus bangga berbahasa,” kata AKBP Ucok Lasdin Silalahi

Jusri Sabri