BERBAGI

Kota Padang dilanda banjir besar (Foto Amrizal Rengganis)

PADANG, kabarpolisi.com –Kota Padang, ibukota Provinsi Sumatera Barat lumpuh akibat dihajar banjir. Suasana Kota Padang hingga dinihari ini (31/5) serupa kota tak berpenghuni. Banjir dimana-mana. Ruas-ruas jalan protokol sudah serupa sungai. Air mengalir deras. Beberapa pemotor bahkan sempat terseret, saking derasnya arus. Listrik mati. Suasana mencekam. Badai menghantam. Sejumlah atap bangunan porak-poranda diterbangkan angin. Orang-orang mulai berdoa, untuk Padang, kota yang dicintainya.

Dikutip dari Harian Haluan Padang, group WhatsApp tak berhenti berdenting sejak badai menghantam. Laporan banjir silih berganti. Andaleh parah. Astratek, warganya sudah mengungsi. Ulak Karang sebentar lagi air sampai ke loteng.

Di Gunung Pangilun, orang-orang mulai menggulung kasur. Di Banda Puruih, air sudah masuk ke kabin mobil. Jondul Rawang lebih parah, perahu karet standby. Begitu, laporan masuk. Warga diamuk kecemasan. Padang, kota yang dulunya begitu nyaman untuk ditinggali, berubah jadi menakutkan, kalau hujan deras turun. Padang lumpuh.

Jalanan sunyi senyap, dengan jarak pandang yang sangat terbatas. Rintik hujan terasa perih ketika menimpa wajah. Angin membuat motor oleng. Butuh keseimbangan ekstra agar lajunya tetap stabil. Badai memang sudah melanda Kota Padang sejak pukul 23.30 WIB, dan tidak berhenti, hingga pukul 04.17 WIB, Rabu (31/5). Badai yang tak hanya memporak-porandakan atap, tapi juga mental warga kota. Di masjid, garin tak henti meminta warga untuk tetap di rumah, karena situasi di luar berbahaya.

Penulis merasakan suasana mencekam itu secara langsung. Pukul 02.00 WIB, usai menuntaskan rutinitas di Kantor Haluan, Kompleks Lanud Sutan Sjahrir, Tabing, Kota Padang, penulis langsung pulang, karena ingin bisa sahur di rumah. Padahal, waktu itu hujan sedang deras-derasnya. Keluar dari Lanud, suasana mulai berbeda. Jalanan begitu lengang. Beberapa orang terlihat mendorong motor, ada juga yang berhenti di pinggir jalan. Suasananya begitu berbeda. Tak lagi terdengar denting gitar, derai tawa anak-anak muda, yang biasanya berkumpul di kafe-kafe kecil di pinggir jalan.

Sekitar 50 meter dari Simpang Tunggul Hitam, sebatang pohon pelindung tumbang, dan melintang di tengah jalan. Sejumlah pengendara berhenti, dan secara bersama-sama mengangkat pohon ke pinggir. Seorang lelaki tambun juga turun dari sedan keluaran terbarunya. Berhujan-hujan, dia mengangkat kayu itu bersama pengendara lainnya. Tak ada kecanggungan. “24 tahun saya menetap di Padang, baru kali ini suasananya begitu mencekam,” ungkap seorang pengendara, usai mengangkat pohon.

Mengendarai motor di tengah hujan deras, dengan kondisi pandangan yang terbatas bukanlah perkara gampang. Di sepanjang Jalan Hamka, ruas jalan masih aman dari banjir. Kondisi berbeda selepas Kantor PSDA Sumbar (Simpang DPRD). Ruas jalan tergenang, hingga mata kaki. Laju motor agak tersendat. Jalan Khatib Sulaiman memang selalu tergenang jika hujan deras turun. Solusi yang dicarikan dan diterapkan Pemko Padang, ternyata belum berhasil.

Dari Simpang Presiden, kondisi kian parah. Air sudah lebih tinggi dari knalpot motor. Lidah-lidah air yang menampar, membuat motor oleng. Kalau tak sigap, bisa terjerembab. Di depan Gedung BPK RI Perwakilan Sumbar merupakan titik paling parah. Air sudah meninggi, hingga menutup lampu motor matic yang dikendarai penulis. Berhenti memutar gas, berarti celaka, sebab air dengan mudah masuk ke knalpot, dan mesin mati. Di Simpang Telkom, ruas jalan ke arah Lapai tak bisa dilalui. Air sudah sangat tinggi, mencapai pinggang orang dewasa. Seorang pengendara yang nekat melewatinya terpaksa harus merelakan motornya mogok. Dia memilih membuka jaket dan menjadikan pengikat motor ke tiang rambu jalan. Ada juga mobil yang terjebak di tengah jalan. “Biar tidak hanyut,” ujarnya dengan tubuh yang sudah menggigil.

Penulis yang biasanya melewati jalan itu, terus lurus ke Jalan Rasuna Said. Bukannya mendapati jalan yang tidak tergenang, kondisi malah lebih parah. Di depan rumah Kapolda Sumbar, ruas jalan sudah serupa sungai. Tiga mobil terjebak, dengan mesin yang mati. Ketika mencoba untuk melewatinya, motor mati, dan terpaksa di dorong ke atas trotoar, yang juga tergenang hingga betis orang dewasa. Pengendara lainnya yang juga mencoba melawan arus, malah ada yang terjatuh dan terseret arus. Ada sekitar tiga meter motornya terseret. “Sudah, jangan lewati lagi. Ini parah. Bisa celaka,” teriak pengendara lainnya yang memilih berhenti di depan halte Transpadang.

Setelah motor hidup, penulis mencoba berputar Kota Padang. Suasana begitu mencekam. Banjir dimana-mana.Jalan Raden Saleh juga tak bisa dilewati. Di sana, beberapa kali, mesin motor kembali mati. GOR H Agus Salim terkepung. Ketika hendak berbelok ke Jalan Veteran, dua orang lelaki tua melarang. “Jangan ke sana, lebih baik cari jalan lain. Banjirnya lebih parah,” ungkap dua bapak bermantel plastik. Larangan itu mengurungkan niat penulis untuk menyaksikan kondisi di Jalan Veteran, dan memilih pulang melewati jalan Mangunsarkoro dari Simpang Ujung Gurun. Jalanan di sana agak tinggi dan tidak banjir. Tapi, patahan dahan kayu berserakan di jalan. Suasana lengang, hingga ke Lapai, terus ke Bypass. Padang nyaris lumpuh. Rumah makan yang biasanya buka hingga pagi, tutup.

Padang tak ubahnya kota mati. Kota yang ditinggalkan penghuninya, dan baru saja diamuk bencana hebat.

Ruas jalan tergenang dimana-mana. Raungan sirine mobil BPBD yang memantau situasi membuat suasana kian mencekam. Air sungai di dekat Rumah Makan Sederhana bergemuruh. Wajah-wajah pucat, sedang mendorong motor, mobil yang mogok di tengah jalan, dengan lampu hazard hidup, seakan menjadi pemandangan yang biasa saja. Dini hari tadi, Padang menampilkan wajah yang berbeda. Wajah yang muram (Bhenz Maradjo)