Beranda BERITA UTAMA Najib Dicekal Imigrasi Malaysia dan Tuduhan Korupsi

Najib Dicekal Imigrasi Malaysia dan Tuduhan Korupsi

BERBAGI

Najib Razak

KUALA LUMPUR, kabarpolisi.com– Mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak dilarang berpergian meninggalkan Malaysia. Ia dan keluarga menghormati larangan berpergian dari Departemen Imigrasi.

“Saya telah mengerti Imigrasi Malaysia tidak membenarkan saya dan keluarga ke luar negara. Saya menghormati arahan tersebut dan akan bersama keluarga dalam negara,” kata Najib seperti dikutip Malaysia Kini.

Sebelumnya Najib sempat mengabarkan melalui akun Facebook resminya bahwa dirinya dan keluarga akan berlibur ke luar negeri mulai Sabtu (12/5/2018) dan akan kembali pekan depan.

Namun, beberapa saat kemudian Departemen Imigrasi mengatakan melalui halaman Facebook resmi bahwa Najib dan istrinya, Rosmah Mansor, masuk dalam blacklist untuk meninggalkan Malaysia.

“Jabatan Imigresen Malaysia ingin mengesahkan bahawa Dato Sri Najib Tun Abdul Razak dan Datin Sri Rosmah Mansor baru sahaja disenarai hitamkan dari keluar negara.” demikian dikutip dari akun twitter imigresenmy

Najib Razak, 64 tahun, kalah dalam pemilihan umum pekan lalu dari mantan Perdana Menteri era 1981 – 2003, Mahathir Mohamad.

Mahathir Mohamad yang dilantik sebagai Perdana Menteri pada Kamis (10/5/2018), berjanji untuk menyelidiki skandal korupsi multi-miliar dilar terhadap dana negara yang ditempatkan pada 1Malaysia Development Berhad (1MDB) yang didirikan oleh Najib.

Najib Razak secara konsisten membantah melakukan kesalahan sehubungan dengan 1MDB.

Dilansir melalui Reuters, dua sumber mengatakan pada Jumat (11/5/2018), bahwa Mahathir akan menunjuk penasihat Departemen Keuangan untuk mengawasi pemulihan dana miliaran dolar yang diduga dicuri dari 1MDB.

Najib mengatakan sebelumnya di Facebook dia menerima tanggung jawab atas kekalahan pemilu dan akan mempertimbangkan posisinya sebagai Presiden Partai Organisasi Nasional Malaysia Bersatu (UMNO) dan Ketua Koalisi Barisan Nasional.

Pengusaha Indonesia

Sementara itu, seorang pengusaha Indonesia disebut media Malaysia terlibat dalam rencana mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak dan istrinya, Rosmah Mansor, untuk pergi ke Indonesia — yang kemudian dibatalkan.

Najib semula direncanakan tiba di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta pada pukul 10.00 WIB, Sabtu (12/5).

Namun ia kemudian masuk daftar cekal yang dikeluarkan Departemen Imigrasi Malaysia pada pagi ini, dan kemudian berjanji akan tetap tinggal di negaranya.

Semula Najib akan terbang menggunakan jet pribadi dengan kode PK-RJX.
Lihat juga: Dicekal Imigrasi, Najib Razak Janji Tetap di Malaysia

Berdasarkan hasil investigasi Malaysiakini, pesawat jet pribadi tersebut dioperasikan maskapai Premiair yang dimiliki oleh PT Ekspress Transportasi Antarbenua yang merupakan unit usaha dari PT Rajawali Wira Bhakti Utama atau Grup Rajawali milik pengusaha Peter Sondakh.

Peter dikenal dekat dengan pemerintah Malaysia, khususnya Najib. Pada 2009 lalu, Peter mendapatkan gelar kebangsawanan Malaysia Tan Sri oleh Yang Dipertuan Agung Malaysia.

Peter juga sempat terseret dalam skandal penjualan kontroversial 37 persen saham di PT Eagle High Plantations (Eagle) ke salah satu badan pemerintah Malaysia, Federal Land Development Authority (Felda) senilai US$505,4 juta pada 2017 lalu.

Peter memiliki saham Eagle melalui PT Rajawali Capital Internasional (RCI). Saat ini, RCI masih memiliki 11,86 miliar atau setara 37,64 saham Eagle.

Rencana pemberangkatan Najib diketahui berdasarkan manifes jadwal penerbangan yang bocor.

Rencana keberangkatan ini terbilang kontroversial, karena perdana menteri baru Malaysia Mahathir Mohamad sehari setelah dilantik berjanji menyelidiki dugaan korupsi sebesar US$4,5 miliar oleh yayasan dana pemerintah 1Malaysia Development Berhad (1MDB), yang didirikan oleh Najib.

Dalam tiga tahun terakhir, skandal ini menyebabkan beberapa orang ditangkap, penutupan sejumlah bank dan penyitaan aset bernilai jutaan dolar di seluruh dunia.

BACA JUGA  Waspadai Pencurian Data Pribadi Lewat Marketplace, Begini Antisipasinya

Skandal tersebut diduga menjadi faktor yang mempengaruhi kekalahan koalisi Barisan Nasional pimpinan Najib dalam pemilu Malaysia ke-14 yang digelar Rabu (9/5) lalu.

Skandal Najib

Dikutip dari CNN Indonesia, Pemerintah baru Malaysia pimpinan Perdana Menteri Mahathir Mohamad bertekad untuk mengembalikan dana miliaran dolar yang diduga dikorupsi dari yayasan dana pemerintah 1Malaysia Development Berhad (1MDB).

Dugaan penyalahgunaan dana sebesar US$4,5 miliar dolar dari badan yang dibentuk oleh mantan Perdana Menteri Najib Razak itu sedang diselidiki oleh Departemen Kehakiman AS dan negara lain seperti Swiss dan Singapura.

Dalam tiga tahun terakhir, skandal ini telah menyebabkan beberapa orang ditangkap, penutupan sejumlah bank dan penyitaan aset bernilai jutaan dolar di seluruh dunia.

Para pengamat politik menyebut skandal ini juga berperan dalam kekalahan Najib di pemilu tanggal 9 Mei lalu.

Kasus ini merongrong Najib sejak harian Wall Street Journal pada edisi Agustus 2015, memuat artikel yang berisi dugaan bahwa dana 1MDB berjumlah sekitar US$700 juta berpindah ke rekening pribadi Najib.

Berikut adalah rincian kronologi kasus ini.

Yayasan pemerintah 1MDB

1MDB adalah dana investasi pemerintah yang dibentuk pada 2009 oleh Najib yang hingga tahun 2016 mengetuai badan penasehat yayasan itu.

Dana yang bertujuan mendorong pengembangan ekonomi diduga didirikan atas bantuan pakar keuangan Malaysia bernama Low Taek Jho atau dikenal juga dengan panggilan Jho Low.

Dana US$4,5 Miliar Hilang dari 1MDB

Antara 2009 dan 2013, 1MDB berhasil mengumpulkan dana miliaran dolar melalui surat hutang yang digunakan untuk proyek investasi dan pendirian perusahaan patungan.

Lihat juga: Mahathir Mohamad, PM Tertua Dunia yang Bawa Oposisi Berjaya

Departemen kehakiman AS mengatakan bahwa dana sebesar US$4,5 miliar kemudian dialirkan ke sejumlah rekening di negara-negara surga pajak dan perusahaan cangkang. Langkah ini dilakukan dengan bantuan dari pejabat tinggi 1MDB, rekan dan para bankir.

Kebanyakan dari rekening dan perusahaan tersebut terkait dengan Low dan beberapa rekannya.

Dana yang digelapkan itu diduga digunakan untuk membeli aset-aset mewah dan real estate yang kemudian dimiliki oleh Low dan rekan-rekannya.
Kronologi Skandal 1MDB Penyebab Najib Kalah dari Mahathir

Sejak Juli 2016, departemen kehakiman AS mengajukan langkah hukum perdata untuk menyita aset yang terkait dengan 1MDB bernilai US$1,7 miliar.

Aset itu meliputi antara lain hadiah yang diberikan oleh Low kepada teman-teman selebritinya, seperti lukisan Picasso yang dihadiahkan kepada Leonardo DiCaprio dan perhiasan yang diserahkan ke model asal Australia Miranda Kerr.

DiCaprio dan Kerr telah menyerahkan barang-barang itu kepada pihak berwenang AS, dan menyatakan siap bekerja sama dengan penyelidikan kasus ini.

Aset lain berupa satu pesawat pribadi, real estate di London, Los Angeles dan New York, serta saham bernilai US$107 juta di EMI Music Publishing.

Melalui juru bicaranya, Low terus menyangkal tuduhan itu. Keberadaannya saat ini pun tidak diketahui.

Keterlibatan Najib

Menurut departemen kehakiman AS, pihak lain yang mendapat keuntungan dari dana 1MDB adalah Riza Aziz, putra tiri Najib yang juga teman dekat Low.

Sejumlah dana dari 1MDB juga digunakan untuk membiayai film Hollywood seperti “The Wolf of Wall Street” dan “Dumb and Dumber To”, keduanya diproduksi oleh Red Granite, perusahaan film yang ikut didirikan oleh Riza.

Red Granite sepakat untuk membayar US$60 juta sebagai upaya menyelesaikan kasus ini di luar jalur hukum.

BACA JUGA  Kapolda Temui Kepala Sekolah Se-Jabodetabek

Lihat juga: Najib Razak, Darah Biru Politik yang Terinfeksi Korupsi

Seseorang yang dalam berkas tuntutan perdata AS disebut sebagai “Pejabat Malaysia 1” disebut menerima lebih dari US$1 miliar dari 1MDB, sebagian dari dana itu digunakan untuk membeli perhiasan bagi istri orang tersebut.

Sumber-sumber di Amerika dan Malaysia mengatakan “Pejabat Malaysia 1” merujuk pada Najib.

Riza dan Najib terus menyangkal tuduhan itu. Pemerintah Malaysia mengatakan uang yang ada di rekening Najib merupakan sumbangan dari salah satu anggota keluarga kerajaan Arab Saudi.

Negara yang Menyelidiki 1MDB

Setidaknya enam negara telah melakukan penyelidikan terkait pencucian uang, kesalahan menajemen dana dan kasus kriminal terhadap kegiatan usaha 1MDB.

Pada 2016 jaksa agung Malaysia menyebut bahwa Najib tidak bersalah dengan mengatakan bahwa dana di rekening pribadinya merupakan sumbangan yang sah.

Akan tetapi bank sentral Malaysia mendenda 1MDB dan sejumlah bank karena melakukan pelanggaran perbankan, meski tidak dirinci jenis pelanggarannya.

Lihat juga: Tiga Jurus Najib Kekang Pembangkang Jelang Pilihan Raya

Sebagai bagian dari penyelidikan mendalam terhadap transaksi yang melibatkan 1MDB, Singapura menutup cabang bank Swiss BSI dan Bank Falcon pada 2016 karena dianggap gagal melakukan pengawasan pencucian uang. Selain itu juga ada tindakan yang tidak pantas dari manajemen senior kedua institusi tersebut.

Singapura membekukan dana jutaan dolar di sejumlah rekening dan mendakwa sejumlah bankir.

Di Swiss, pengawas jasa keuangan FINMA menyita dana sebesar US$110 juta yang merupakan keuntungan yang diperoleh secara tidak sah dari kesepakatan-kesepakatan terkait 1MDB yang dilakukan oleh BSI, Falcon dan Coutts & Co.

Tahun lalu jaksa penuntut AS meminta agar tuntutan hukum perdata dihentikan sementara agar bisa melakukan penyelidikan pidana.

Pada Februari, pihak berwenang AS dan Indonesia menyita kapal Equanimity, kapal pesiar mewah bernilai US$250 juta, yang diduga dibeli oleh Low dengan dana dari 1MDB.

Dampak 1MDB di Malaysia

Najib menolak desakan-desakan untuk mengundurkan diri dan memecat wakil perdana menteri dan jaksa agung. Langkah yang dianggap diambil karena terkait skandal itu.

Pemerintah juga mengambil kebijakan yang oleh para pengkritik dianggap sebagai upaya membatasi pembicaraan soal 1MDB, seperti menahan pegiat hak asasi manusia, menutup satu koran, dan memblokir situs dan blog.

Pada 2016 Mahathir mengundurkan diri dari koalisi yang berkuasa karena marah dengan skandal 1MDB, dan bergabung dengan ketua oposisi Anwar Ibrahim yang dulu merupakan musuhnya.

Aliansi kedua tokoh ini berhasil menyingkirkan Najib melalui kemenangan di pemilu, dan para pengamat politik menyebut bahwa faktor utamanya adalah kemarahan masyarakat.

Cara Mahathir Mengatasi 1MDB

Setelah dilantik sebagai perdana menteri, Mahathir bertekad untuk menyelidiki 1MDB dan mengatakan Najib “akan menghadapi konsekuensi” jika dia terbukti melanggar hukum.

Dia juga mengatakan akan mengkaji ulang perilaku dan kemungkinan mengganti kepala departemen yang sebelumnya menyelidiki skandal itu, termasuk komisi antikorupsi dan jaksa agung yang menyatakan Najib bersih.

Mahathir juga berencana menunjuk seorang penasehat kementerian keuangan yang akan memimpin upaya menyelidiki dan menarik kembali dana 1MDB di luar negeri.

Darah Biru

“Dia benar-benar baru terjun ke politik pada malam pemakaman ayahnya.”

Demikian Idris Shaari Mat Aris menggambarkan kekagetannya menyaksikan detik-detik Najib Razak terjun ke dunia politik empat dekade silam.

Kala itu, tak ada yang menyangka bahwa puluhan tahun kemudian, Najib bisa duduk di kursi perdana menteri Malaysia, layaknya sang ayah, Abdul Razak.

BACA JUGA  208 Personal Polda Metro Jaya Berganti Posisi

Sebagai pengawal pribadi Abdul Razak, Idris mengenal Najib sejak masih berusia 12 tahun. Menurut Idris, meski memiliki perangai seperti ayahnya, Najib tumbuh tanpa ambisi mengikuti jejak Abdul menjadi pemimpin.

Sedari kecil, Najib hanya ingin meniti kariernya di bidang bisnis, terutama setelah mendapat gelar sarjana dari fakultas ekonomi industri di Universitas Nottingham, Inggris.

Sepulangnya ke Malaysia, Najib sempat bekerja di Bank Negara sebelum menjabat sebagai manajer di perusahaan minyak negara, Petronas, bersama pamannya, Hussein Onn.

Semua berubah pada 14 Januari 1976, ketika Abdul Razak meninggal dunia karena leukemia. Sebagai anak sulung, Najib didaulat menggantikan posisi ayahnya di parlemen, sementara Hussein mengambil alih kursi perdana menteri

Dalam semalam, Najib memiliki julukan baru, yaitu “sang darah biru politik” karena ayah dan pamannya menyandang gelar perdana menteri, sementara dia sendiri menjadi bakal anggota parlemen di usia sangat muda, 23 tahun.

Dua tahun kemudian, Najib ditunjuk menjadi Wakil Menteri Energi, Telekomunikasi, dan Pos. Ia pun menjadi pemegang jabatan wakil menteri paling muda dalam sejarah Malaysia.

Di bawah pemerintahan Mahathir Mohamad, Najib sempat mengisi beberapa pos penting, seperti Menteri Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga, kemudian Menteri Pertahanan, hingga Menteri Pendidikan.

Ketika kembali menjabat sebagai Menhan pada periode 2000-2008, Najib mengkoordinasikan bantuan Malaysia untuk tsunami di Indonesia dan penangkapan tersangka kasus bom Bali.

Reputasi Najib tercoreng ketika di bawah kepemimpinannya, Kemenhan Malaysia diduga melakukan korupsi pembelian dua kapal selam Scorpene dari perusahaan Perancis.

Najib pun disebut-sebut terlibat dalam pembunuhan Shaariibuugiin Altantuyaa, perempuan Mongolia yang menjadi penerjemah dalam proses pembelian kapal itu.

Pada 2004, percaturan politik Malaysia bergulir. Mahathir pensiun, digantikan oleh wakilnya, Abdullah Ahmad Badawi, yang kemudian memberikan jabatan lamanya kepada Najib.

Di tengah masa resesi global itu, Najib juga diberi tanggung jawab sebagai menteri keuangan. Najib pun menggunakan ilmu ekonominya untuk membuat serangkaian paket stimulus demi melindungi ekonomi Malaysia.

Meski demikian, popularitas partai berkuasa, UMNO, dan koalisinya, Barisan Nasional (BN), terus merosot, disusul oleh oposisi yang memegang kendali atas lima dari 13 negara bagian Malaysia dalam pemilihan umum 2008.

Saat UMNO terpuruk, Najib dipercaya menjadi perdana menteri. Namun, isu korupsi kembali menginfeksi sang darah biru politik Malaysia ini.

Pada 2009, Najib mengepalai 1Malaysia Development Berhad (1MDB), badan investasi negara yang didirikan sebagai bagian dari Program Transformasi Ekonomi.

Enam tahun beroperasi, 1MDB dilaporkan memiliki utang hingga 42 miliar ringgit atau setara Rp149 triliun, memberikan gambaran buruk pertumbuhan ekonomi Malaysia.

Hingga akhirnya, pada 2 Juli 2015, Wall Street Journal merilis berita yang mengindikasikan ada aliran dana sebesar 2.672 triliun atau setara Rp9,5 triliun dari 1 MDB ke rekening pribadi Najib.

Meski terus membantah, nama Najib semakin tercoreng di mata publik. Berbagai belahan masyarakat pun mulai melakukan gerakan untuk menuntut Najib mundur.

Mahathir bahkan bersatu dengan musuh bebuyutannya, Anwar Ibrahim, yang pernah ia pecat dari jabatan wakil perdana menteri dan menjebloskannya ke penjara atas kasus sodomi, tuduhan yang sarat politik.

Dalam pemilihan umum kali ini, Mahathir dan Anwar membalut luka masa lalu demi melawan musuh bersama saat ini, Najib Razak.

“Yang penting menggulingkan Najib. Dia adalah monster di mata kebanyakan rakyat Malaysia,” kata Mahathir dalam wawancara khusus dengan AFP. (BT/Malaysia Kini/Bernama/Reuters/CNN)