Beranda KABAR UTAMA Pengamat Lihat Banyak Kejanggalan Penembakan Gedung DPR

Pengamat Lihat Banyak Kejanggalan Penembakan Gedung DPR

BERBAGI

Dewinta Pringgodani, SH, MH

JAKARTA, kabarpolisi.com – Pengamat politik, hukum dan keamanan, Rr. Dewi merasa banyak kejanggalan dari penembakan gedung DPR dengan analisis polisi terkait peluru nyasar dari Lapangan Tembak Senayan. Ada sekitar lima tempat peluru-peluru yang ditembakkan dan bersarang.

Dewi bertanya, apakah masuk akal peluru nyasar dan menelusuri hingga 400 meter dari lokasi penembakan.

“Peluru yang nyasar itu majukan ke atas gedung di DPR. Patut kita curiga memang tembakan itu dengan sengaja dan penuh kesadaran telah diarahkan dan dibidik. Katakanlah benar karena orang berlatih menembak, paling beberapa meter nyasarnya,” kata Dewi kepada kabarpolisi.com tadi malam.

Sebab, kata Dewi, jarak 10 meter peluru salah sasaran dari titik bidikan saja, tentu sudah terlalu jauh melesetnya, kurang 400 meter. “Sekali lagi masuk akalkah nyasar 400 meter ke banyak tempat ruangan?” katanya heran.

Dewi merasa hal itu sangat tidak masuk akal. Namun, yang sangat mungkin adalah penembakan yang dilakukan dengan kesadaran dan kesengajaan penuh. Menjadi pertanyaan, dilakukan karena iseng atau ada motif tertentu.

Karenanya, ia berharap polisi segera mengusut tuntas dan seret ke meja hijau pelakunya.

“Saya tegaskan, saya sepenuhnya menolak teori peluru nyasar, oleh karena itu, sekali lagi, saya harapkan polisi mengusut tuntas. Bisa itu orang iseng, atau penembakan dengan motif tertentu. Ingat nyawa yang jadi taruhanya loh, “ujarnya.

Peluru Nyasar?

Peristiwa peluru nyasar terjadi pada Senin (15/10) di gedung DPR RI pukul 14.30 WIB. Tembakan tersebut kemudian bersarang di lantai 13 di ruang 1313 yang ditempati anggota Komisi III Fraksi Partai Golkar Bambang Heri Purnama dan di lantai 17 di ruang 1201 anggota Komisi III DPR Gerindra Wenny Warouw.

Pada Rabu (17/10), bekas dugaan penembakan peluru salah satu sasaran ditemukan pada dua lokasi, yaitu di bagian anggota Fraksi Partai Demokrat Vivi Sumantri Jayabaya dan anggota Fraksi PAN Totok Daryanto. Ruangan Vivi berada di lantai 10 nomor 1008 dan di luar Totok berada di lantai 20 nomor 2003.

Polisi telah menetapkan dua orang menjadi tersangka kasus dugaan pelayaran ke gedung DPR RI. Dua tersangka itu adalah pegawai negeri sipil (PNS) di sebuah kementerian.

“Tersangka berinisial IAW (32) dan RMY (34),” kata Dirkrimum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Nico Afinta di Mapolda Metro Jaya, Selasa (16/10).

Menurut Nico, kedua tersangka melakukan aksi penembakan itu bukan karena faktor kesengajaan. Mereka sedang melakukan latihan tembak di Lapangan Tembak Senayan yang mencari berdekatan dengan gedung DPR RI.

“Jadi, kami menepis bahwa kejadian ini ada yang tidak ada yang kesengajaan,” ucapnya

Lubang hasil pencelupan yang menembus jumlah anggota DPR RI Komisi IV Fraksi Partai Demokrat Vivi Sumantri yang terkait dengan penemuan peluru nyasar ke Nusantara 1, gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (17/10).

Dari kedua tersangka, polisi menyita dua buah senjata api Glock 17 dan Akai Custom dengan kaliber 40 mm. Senjata itu, menurut Nico, adalah jenis senjata yang diperuntukkan olahraga.

Wenny Warouw, yang ruangannya ditembus peluru para tersangka, menganggap kejanggalan dari kejadian ini. Ia mengaku telah mengecek langsung ke lokasi Lapangan Tembak Senayan sehari setelah kejadian.

“Dari permukaan tembak reaksi, itu nggak kelihatan sama sekali. Ada tanggul kira-kira dua meter, ada lagi seng baja lima meter, baru ada pohon-pohon, kok peluru bisa tembus?” kata Wenny Warouw, Rabu (17/10).

Kecurigaan Wenny saat ini adalah penembakan adalah seorang pegawai negeri sipil (PNS) Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Menurutnya, aneh jika seorang PNS berlatih menembak pada saat jam kerja.

“Kalian Sekarang Penyanyi Pergi dong Ke Menteri Perhubungan, tanya ITU kok jam kerja latihan nembak ? Gitu loh , Dan mereka Punya sertifikasi Perbakin, kenapa Bilang Bukan Perbakin?” Yoon.

Anggota Komisi III tersebut melakukan penyidik ​​untuk melakukan uji balistik di lapangan dan tidak dilakukan di ruangan. Selain itu, ia juga membantu untuk menyelesaikan para pelaku dari mana saja berasal.

Anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat Vivi Sumantri Jayabaya dan anggota DPR Fraksi PAN Totok Daryanto serta orang-orang yang ikut terkena tembakan. Ruang yang masing-masing berada di lantai 10 dan lantai 20 Gedung Nusantara 1 DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, itu baru dilihat Rabu (17/10).

Wakil Ketua MPR Ahmad Muzani menyebut untuk kesekian bergulir Kompleks Parlemen Senayan mempengaruhi peluru nyasar . Muzani mengaku heran karena hanya gedung DPR yang kerap disasar peluru.

“Saya tidak pernah mendengar ada penghuni hotel di Hotel Mulia membersihkan tertembak dari latihan tembak dari lapangan tembak. Sayang, itu sama posisinya. Tapi, yang sering terjadi di gedung DPR,” kata politkus Partai Gerindra tersebut, Selasa (16/10) .
Ia bisa, bisa saja kejadian nyasar itu adalah benar-benar tindakan yang dilakukan atas nama latihan tembak. Menurutnya, kewajiban itu bisa saja terjadi.

“Saya tidak tahu apa yang dilakukan dari anggota dewan, tetapi yang pasti mengubah situasi itu menjadi satu kesatuan, dalam menjalankan tugas-tugas DPR dalam menjalankan fungsinya, dalam menjalankan tugasnya,” ujarnya.

Pengamat terorisme Al Chaidar menilai, penembakan ke gedung DPR untuk menembus kaca merupakan faktor kesengajaan yang dilakukan kelompok teroris. Pasalnya, kata dia, selama ini ada kelompok yang mengincar gedung wakil rakyat itu.

“Ya, ini serangan bisa jadi dilakukan oleh kelompok teroris ya,” kata dia saat dihubungi Republika.co.id , Selasa (16/10).

“Patut kita curiga memang tembakan itu dengan sengaja dan penuh kesadaran telah diarahkan dan dibidik. Kalahan benar-benar nyasar karena orang latihan menembak, paling beberapa meteran nyasarnya. ” Anggota Fraksi Partai Demokrat Didi Irawadi Syamsuddin

Menurut dia, salah satu kelompok teroris yang ingin menyerang kantor parlemen itu adalah Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang barada di Banten. Namun, menurut dia, JAD bukan satu-satunya kelompok yang mau menelor DPR.

Ia menegaskan, ada pula kelompok yang beraliran sekuler. Bahkan, ada kelompok-kelompok yang berbasiskan partai politik.

“Kelompok (terorisme) kan bukan dari kalangan Islam radikal saja,” ujar dia.

Al Chaidar mengatakan, sulit untuk menerima bahwa peluru yang menembus kaca gedung DPR merupakan tembakan nyasar . Pasalnya, yang menjadi sasaran hanya kantor wakil rakyat itu.

“Jelas itu kesengajaan, indikasinya selama ini gedung DPR sudah diatur oleh beberapa kelompok teroris. Jadi, saya kira itu bentuk kesengajaan-lah , “kata dia.

Dua orang tersangka kasus peluru nyasar pencairan nama untuk saat ini di Jakarta Metro Jaya, Jakarta, Selasa (16/10/2018).

Kepala Puslabfor Mabes Polri Komisaris Besar Polisi Ulung Sanjaya menjelaskan secara tepat hasil-hasil perkara (TKP) di atas anggota DPR RI yang menjadi sasaran tembak peluru nyasar . Dengan senjata serupa, Puslabfor Mabes Polri dengan menggunakan senjata yang tersangka, benar-benar mampu melesat jauh hingga ke lantai 13 dan lantai 16.

“Puslabfor bersama penyidik ​​dari Polda Metro Jaya kemarin telah melakukan olah TKP adanya penembakan di gedung DPR di mana Puslabfor itu bekerja TKP, dan pemeriksaan barang bukti yang ditemukan di TKP, “kata Ulung di Mapolda Metro Jaya, Selasa (16/10).

Olah TKP yang dilakukan Tim Puslabfor pada Senin (15/10), antara lain, langsung mendatangi ruang-ruang yang dikenal dengan proses penembakan, ruang tersebut adalah ruang lantai 13 dan ruang lantai 16. Pada lantai 13, ditemukan anak peluru masih kelihatan utuh, artinya peluru Belum lepas Dari selongsongnya, Lalu Menembus Dari Dinding Yang dilapisi gypsum Dan also di luarnya ADA LOGAM Yang Tipis Sampai Mengenai Ke hearts ruangan.

Peluru kemudian menemukan dinding kayu dan melesat ke samping staf yang ada di dalam dan memengaruhi di bagian depan. Kondisinya masih kelihatan karena benturan yang tidak begitu keras dan dia lebih keras dari benda yang ditabraknya.

Sementara pada lantai 16, peluru pertama kali menembus kaca yang ketebalannya sekitar enam milimeter. Kaca itu lebih keras dari peluru yang dikeluarkan dari jaket anak pelurunya.

“Dari hasil olah TKP, kami akan melakukan ini, kami akan menggunakan dari dua anak yang dihasilkan di TKP ini berasal dari senjata,” kata Ulung menjelaskan.

Dari perkembangan yang dilakukan oleh penyidik, itu yang dicurigai dipergunakan saat itu di lapangan tembak. Setelah pihaknya melihat referensi, jarak tembaknya yang dapat mencapai lantai 13 dan lantai 16, memang berasal dari senjata yang dilakukan dua tersangka ini.

“Kita lakukan uji tembak di laboratorium, di shooting box, senjatanya lagi, baru diadakan penembakan. Hasilnya, anak-anak yang terdeteksi, jumlah kedua anak-anak yang ada di TKP ternyata hasilnya identik. Artinya, seperti yang berbeda dari hasil uji penembakan itu segaris, antara lain, “paparnya.

Identik antara bentuk ini adalah galangan dan dataran, hanya dapat dilihat melalui mikroskop, diperbesar, difoto, dan terlihat segaris, Dari situ, menjadi bukti bahwa peluru memang berasal dari senjata yang dimaksud (Glock 17).

Ruang Effendi Simbolon

Ditemukan peluru nyasar di ruangan Anggota DPR F-PDIP Effendi Simbolon hari ini. Saat peluru ditemukan, Effendi tengah melakukan kunjungan kerja.

“Saya juga dimintakan izin untuk memeriksa ruangan oleh polisi. Lewat staf saya, nggak ke saya. Karena pagi-pagi katanya petugas kebersihan itu menemukan adanya lubang itu,” ujar Effendi saat dihubungi, Kamis (18/10/2018).

“Terus lapor, lalu pamdal dan polisi melakukan pengecekan dan izin lewat staf saya. Saya pas dilaporkan sedang rapat ya, lagi kunker (kunjungan kerja) saya,” lanjut Effendi.

Dia mengaku mendapatkan kabar penemuan peluru pada pagi tadi sekitar pukul 9.30 WIB. Saat itu, Effendi sedang tak ada di lokasi.

“Pagi ya. Sekitar 9.30 ya kalau tidak salah,” ujar Effendi.

Baca juga: Polisi Temukan Peluru di Ruang Anggota DPR F-PDIP Effendi Simbolon

Sehari-hari, Effendi bekerja di ruangan 615 gedung Nusantara I DPR. Effendi menyerahkan kepada polisi untuk mengusut penemuan peluru nyasar ini.

“Saya menyerahkan sepenuhnya (ke polisi) untuk mengungkap. Apakah ini bagian dari rangkaian kejadian yang lalu atau lain,” kata Effendi.

Sebelumnya diberitakan, peluru itu ditemukan setelah polisi melakukan penyisiran di gedung DPR. Peluru yang ada di ruang kerja Effendi ditemukan di sela-sela papan ruangan.

“Artinya lubang di kaca, kemudian dari tim menyampaikan ke drone untuk mengecek. Memang benar ada lubang karena benda tajam dan kemudian setelah kita lakukan pencarian dari pada proyektil kita temukan, ada di sela-sela papan di ruangan itu. Kita temukan. Jadi dengan adanya penemuan proyektil tersebut,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, hari ini
(Rizal)