BERBAGI

MEDAN, kabarpolisi.com – Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Medan berhasil mengungkap kasus eksploitasi puluhan anak yang berusia dari balita hingga belasan tahun yang biasa beroperasi di Simpang Jalan Sei Sikambing, Jalan Kapten Muslim, dan Jalan Gatot Subroto, Medan, Kamis (19/9).

Pengungkapan kasus ini disampaikan oleh Kapolrestabes Medan Komisaris Besar Dadang Hartanto kepada media.

“Pengungkapan berawal dari adanya laporan masyarakat bahwa di beberapa titik di Kota Medan terdapat pengemis yang menggunakan anak kecil. Setelah mendapat laporan itu, petugas langsung mengecek di lapangan, dan menemukan mereka di wilayah [Medan] Helvetia. Petugas juga mengamankan lima orang dewasa,” kata Kombes Dadang,

Sebanyak 20 orang anak-anak yang diamankan, diketahui diminta jadi pengemis di pinggir jalan. Mereka digunakan untuk memicu rasa iba pengguna jalan, bahkan hingga tengah malam anak-anak tersebut masih berada di jalanan untuk meminta-minta

Anak-anak tersebut dibawa menggunakan angkutan kota nomor trayek 65 dengan nomor polisi BK 1170 UE dari Jalan Padang, Medan Tembung, ke simpang Sei Sikambing. Mereka digunakan untuk membuat orang merasa iba kemudian memberikan uang.

“Penghasilan mereka dari mengemis di jalanan ini bisa mencapai Rp50.000 per hari. Ini tidak bisa dibiarkan. Jadi ini harus diprioritaskan untuk menjadikan Kota Medan tidak ada pengemis yang mengeksploitasi anak untuk meminta-minta, terutama anak di bawah lima tahun,” jelasnya.

Menurutnya, solusi yang bisa dilakukan agar tidak ada lagi anak-anak yang mengemis di jalanan yakni dengan mendatangi rumah mereka untuk mengetahui bagaimana lingkungan tempat tinggal mereka.

“Dengan mendatangi rumahnya, petugas sudah mendata apakah mereka sudah mendapatkan dukungan dari pemerintah, misalnya program-program yang menunjang perekonomian mereka,” jelas Dadang.

Apabila mereka tidak mengindahkan program tersebut, Dadang menyebut ada upaya lain yang lebih tegas untuk menyelamatkan anak-anak tersebut agar ditanggung oleh negara.

“Karena kalau orang tuanya tidak bertanggung jawab atau kalau ini terkoordinir bisa dikenakan trafficking ini person. Upayanya dari soft sampai hard untuk menjaga anak-anak ini tidak dimanfaatkan oleh orang-orang yang lebih tua, meskipun orangtuanya. Ini kita masih dalami. Ini masih berkisar keluarganya,” pungkasnya. (RED)