Beranda BERITA UTAMA Profil Idham Azis, Dari Sekolah Darurat Hingga Segudang Prestasi

Profil Idham Azis, Dari Sekolah Darurat Hingga Segudang Prestasi

BERBAGI

JAKARTA, kabarpolisi.com – Komisi III DPR RI akhirnya menyetujui Komisaris Jenderal (Komjen) Idham Azis sebagai calon tunggal Kapolri setelah menjalani serangkaian uji kepatutan dan kelayakan atau fit and proper. Komjen Idham Azis ditunjuk sebagai pengganti Jenderal (Purn) Tito Karnavian yang mengemban tugas baru sebagai Menteri Dalam Negeri (Mendagri)

Sebagai calon tunggal, Idham Azis memulai karir dari bawah hingga memiliki segudang prestasi. Berikut profil Komjen Idham Azis:

Idham Azis lahir pada tahun 1963 di Kampung Salo, Kecamatan Kendari, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Di tempat itu jugalah Idham menghabiskan masa kecilnya.

Idham merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Ayahnya bernama Abdul Azis, ibunya Tuti Pertiwi Azis. Pendidikan dasar 9 tahun Idham dienyamnya di Kota Kendari. Idham bersekolah di SD Negeri 8 Kendari, Kampung Salo, SMP Negeri 2 Kendari, dan SMA Negeri 1 Kendari. Setelah itu, Idham lulus di Akademi Kepolisian pada tahun 1988.

Warga Kampung Salo akrab memanggil Idham dengan panggilan ‘Om Calli’. Nama ini merupakan nama panggilannya semasa kecil. Di mata warga Kampung Salo, Idham dikenal sebagai anak yang penyabar dan tekun. Ia juga dikenal aktif di rekan-rekan sebayanya saat masih anak-anak.
Sempat di Sekolah Darurat.

Idham bersekolah di SD 8 Kendari, Kampung Salo. Dulunya, sekolah ini adalah sekolah darurat. Fatimah, guru agama di sekolah itu menggambarkan, sekolah darurat tersebut berdinding papan, dan beralaskan tanah.

“Kursi yang dipakai itu kursi kereta. Yang panjang, yang satu kursi bisa banyak yang duduk,” tutur Fatimah sambil mengingat lembaran kisah lama itu saat ditemui kendarinesia di SDN 8 Kampung Salo pada Rabu (30/10).

Tahun 80-an, SDN 8 sudah berpindah tempat, dan memiliki bangunan permanen. Lokasinya tidak jauh dari lokasi sekolah darurat.

BACA JUGA  Ini Dia Pemegang Adhi Makayasa di Polri 1970 - 2020

Di mata Fatimah, Idham merupakan anak yang tekun dan penyabar. Idham juga dikenal sebagai anak yang berprestasi.

“Ranking satu terus,” ujar Fatimah.

Selain itu, Idham juga disebut-sebut sebagai anak yang bertanggung jawab. Ciri-ciri itu, kata Fatimah, ia lihat ketika Idham diberi tugas belajar dari sekolah.

Semua tugas yang diberikan saat masih sekolah selalu diselesaikan. Tidak peduli benar atau salah, yang jelas tugas-tugas yang diberikan itu selesai.

“Kalau dikasih tugas, pekerjaan rumah, itu pasti diselesaikan. Benar salahnya, yang jelas dia selesaikan. Di situ saya lihat dia orang punya tanggung jawab,” tutur Fatimah.

Kata Fatimah, sejak kecil Idham berkeinginan kuat menjadi polisi. Setiap ditanya cita-cita, Idham selalu menjawab ingin jadi polisi.

Fatimah berpesan agar Idham Azis bisa mengemban amanah dengan baik jika disetujui menjadi Kapolri. Ia berharap, Idham bisa mencetak banyak prestasi sebagaimana prestasinya yang sering juara kelas saat SD.

“Pesan saya satu lagi, jangan lupa Kampung Salo,” jelas Fatimah.
Sederet perjalanan karier Idham, tahun 2013, bertugas sebagai Direktur Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri, 2014 Kapolda Sulawesi Tengah, Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan Polri di tahun 2016, dan tahun 2017, menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya.

Idham Azis juga sukses menangani kasus bom Bali II dan mutilasi tiga siswi di Poso dan ikut terlibat dalam operasi-operasi skala besar, seperti Operasi Anti-Teror Bareskrim Polri di Poso (2005-2007), Operasi Camar Maleo (2014-2016), dan Operasi Tinombala (2016).
Sulawesi Tenggara

Sumber:Kumparan