BERBAGI

Setya Novanto

Jakarta, kabarpolisi.com – Anda selalu saja jawab lupa. Saya cermati anda jawab selalu lupa, tidak ingat, kenapa banyak lupa?” kata hakim ketua majelis hakim pengadilan tindak pidana korupsi John Halasan Butarbutar kepada Setya Novanto di pengadilan, Jalan Bungur Besar Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (3/1/12017).

Setelah dua kali dipanggil jaksa KPK, Novanto tak hadir. Baru pada panggilan ketiga, ketua DPR itu mau datang. Dia diperiksa sebagai saksi untuk terdakwa Andi Agustinus alias Andi Narogong dalam perkara korupsi kasus e-KTP tahun 2011-2013.

Novanto mengaku tidak tahu ketika ditanya hakim John mengenai aliran uang kasus korupsi e-KTP.

“Saya betul-betul tak ketahui yang mulia,” kata Novanto.

Novanto mengaku sudah lupa banyak informasi. Alasannya, peristiwa itu sudah berlangsung lama sekali, ketika dia masih menjadi ketua Fraksi Golkar.

“Pertemuan di Gran Melia pagi hari anda ketemu beberapa pihak selain Diah, ada Irman, Sugiharto dan Andi?” kata hakim.

Diah merupakan mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Diah Anggraeni, sedangkan Irman dan Sugiharto merupakan mantan pejabat Kementerian Dalam Negeri.

Saat itu, Andi Narogong tidak keberatan dengan kesaksian Diah.

“Tidak benar yang mulia. Masih Seperti BAP (Berita Acara Pemeriksaan) dan dalam sidang yang lalu,” kata Novanto.

Tapi Novanto mengakui adanya pertemuan sebanyak dua kali dengan Andi Narogong. Tapi, kata dia, pertemuan tersebut hanya kebetulan

“Pada pertengahan 2009 jadi saudara Andi datang di Tee Box Cafe. Dia perkenalkan diri, dia adalah supplier kaos dan pembuatan alat lain terkait pilpres karena suasana pilpres. Saya bilang ya sudah nanti ditawarkan berapa harganya, tapi harganya masih nggak cocok. Itu kebetulan ketemu,” kata Novanto.

Setelah peristiwa itu, kata Novanto, Andi datang lagi dan menawarkan barang yang sama. Namun, kata dia, tidak ada kesepakatan.

“Lalu pada bulan berikutnya beliau sampaikan ada kaos yang berasal dari Cina yang menurutnya lebih murah.Saya tanya prosedurnya bagaimana, setelah saya lihat kelihatannya akan mengalami kesulitan pengiriman dan lain-lain. Akhirnya kita nggak jadi. Saya hanya bertemu di situ pak dua kali saja,” kata Novanto.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Setya Novanto disebut menerima uang dari proyek pengadaan e-KTP. Dia mendapat jatah uang panas proyek yang ditaksir merugikan negara hingga Rp2,3 triliun itu dari Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudiharjo.

Hal tersebut diketahui saat jaksa penuntut umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memutar rekaman pembicaraan antara Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudihardjo dengan Direktur Biomorf Lone LLC, Johannes Marliem.

Rekaman Johannes Marliem

Rekaman pembicaraan Marliem-Anang itu diputar dalam persidangan perkara korupsi e-KTP dengan terdakwa Andi Agustinus alias Andi Narogong, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Jumat (3/11).

Anang dihadirkan sebagai saksi untuk Andi Narogong. Dalam rekaman percakapan itu, Anang memberitahu Marliem, bahwa Setnov mendapat jatah dari dirinya.

“Si jatahnya si Asiong yang di tempat gue, itu kan dikasi ke si S,” kata Anang kepada Marliem dalam rekaman percakapan itu.

Dalam rekaman itu juga, Anang menyampaikan kepada Marliem, “Ah.. terus gua bilang, ‘Asiong yang itu kan berdasarkan hitungan untung-untung dong’. Maksudnya udah berhitung. Si S-nya minta si O untuk nge-review. Yah kamu lihat aja buku gua. Gua sih terbuka kok.” “Iya,” timpal Marliem.

Kemudian pada percakapan selanjutnya, Marliem menyebut soal proses pelaksanaan proyek e-KTP. Dia tak menginginkan Andi Narogong rugi dalam proyek senilai Rp5,9 triliun.

“Jadi mungkin kejelasannya gimana ya? Jadi satu gini, kalau dari saya, kalau memang Asiong rugi, ya saya enggak mau dia rugi. Kalau rugi nanti ya, saya juga dianggap apa namanya Malin Kundang juga. Iya kan? A..apa namanya kacang lupa kulitnya, apalah mau diomongin yang seperti itu,” kata Marliem ke Anang.

Marliem melanjutkan, “Yang paling penting yang enggak rugi, tapi kalau kata dari Pak Anang dia juga dapat dari mana-mana, toh dia enggak rugi. Ya tapi jangan merugikan orang lain. Gitu aja aja maksudnya. Iya kang?”

“Aku tuh nggak pernah tahu gitu loh, dia dapat dari mana-mana, justru aku tuh dapatnya informasi itu dari S sendiri,” Anang menimpali.

Lantas, Jaksa KPK Abdul Basir mengonfirmasi kepada Anang mengenai kata-kata tersebut. Anang mengaku Asiong merupakan nama lain dari Andi Narogong. Sementara S merupakan Setya Novanto.

Anang mengakui, saat itu ia memberitahu Marliem jatah fee untuk Setya Novanto ditanggung PT Quadra Solutions.

“Saya ngomong begitu, bukan kasih ke Andi. Saya kasih tahu ke Marliem bahwa saya juga punya beban,” kata Anang.

Anang menyebut, dalam percakapan itu Marliem mengeluh karena harus menanggung beban besar untuk bagi-bagi fee dalam proyek milik Kementerian Dalam Negeri itu. “Marliem bilang dia sudah banyak beban,” tuturnya.

Anang bersaksi setelah Setnov. Pada kesempatan sebelumnya, Setnov membantah ikut menikmati uang dari proyek pengadaan e-KTP, yang ditaksir merugikan negara hingga Rp2,3 triliun.

“Ini fitnah yang sangat kejam, yang selalu dilakukan dari pihak-pihak yang berusaha menyudutkan saya,” tuturnya.

Setnov mengklaim sama sekali tidak mengetahui soal aliran uang dari proyek senilai Rp5,9 triliun itu.

Setya Novanto ketika proyek e-KTP bergulir pada 2010 itu, mengaku baru tahu ada permasalahan dalam proyek yang disebut-sebut diatur Andi Narogong dari pemberitaan media massa, sekitar 2012-2013.

Doni Harima