Beranda BERITA UTAMA “Ribut” dengan Menko Luhut Pengamat Kecam Ratna Sarumpaet, Dewinta : Kampungan !

“Ribut” dengan Menko Luhut Pengamat Kecam Ratna Sarumpaet, Dewinta : Kampungan !

BERBAGI

Dewinta Pringgodani SH MH

JAKARTA, kabarpolisi.com – Pengamat hukum, politik dan keamanan, Rr. Dewinta Pringgodani SH MH menyayangkan terjadinya “ribut” antara Aktivis Ratna Sarumpaet dengan Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan di posko tim pencarian KM Sinar Bangun, Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun, Sumut, Senin kemarin.

“Kita sayangkan peristiwa itu terjadi. Tindakan Ibu (Ratna) memalukan. Kesan publik yang saya tangkap, kampungan,” kata Dewinta Pringgodani ketika dihubungi kabarpolisi.com tadi malam.

Wanita cantik kelahiran Solo mempertanyakan kapasitas Ratna Sarumpaet hadir di situ. Jika sekedar mengklaim mewakili rakyat Indonesia, itu kan klaim sepihak. Siapapun bisa bikin klaim seperti itu.

“Kalau pun mau membantu korban KM Sinar Bangun kan bisa bicara baik-baik. Gak perlu teriak-teriak dan ngamuk seperti itu. Ibu (Ratna) telah mempermalukan dirinya sendiri,” kata Dewinta.

Dewi mengaku prihatin atas kejadian ini dan merasa kasihan terhadap Menko Luhut Binsar Panjaitan yang menjadi korban kemarahan Ratna Sarumpaet “Posisi Pak Luhut benar. Beliau kan mewakili pemerintah. Memang itu tugas beliau. Sebagai orang tua hormati Pak Luhut. Lha, Bu Ratna itu sebagai apa? ” Dewinta bertanya.

Dewi berharap hal seperti ini tidak perlu terjadi. Sebagai orang berpendidikan tentu ada etika dalam menyampaikan pendapat. “Demonstrasi saja ada aturan nya kok? Masak teriak-teriak di tengah orang berduka, ” katanya.

Menjawab pertanyaan apakah ada motif politik dibalik aksi Ratna Sarumpaet, Dewi mengaku tidak tahu. “Saya gak mau mengaitkan kejadian ini dengan politik. Saya cuma menyayangkan sikap Ibu (Ratna) itu,” ujar Dewinta Pringgodani.

Dewi juga mengaku miris melihat kelakuan Ratna di tengah duka para keluarga korban tragedi KM Sinar Bangun di danau Toba, Ratna Sarumpaet muncul membuat keributan di tengah pertemuan dengan Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan.

Kondisi ini sampai membuat keluarga korban menangis melihat Ratna cekcok dengan Luhut. Hingga satu diantara keluarga korban tidak tahan sampai memarahi Ranta Sarumpaet dalam pertemuan tersebut.

“Belum diketahui motif Ratna membuat keributan dalam pertemuan tersebut. Pasalnya tak satupun keluarganya turut dalam tragedi itu,” kata Dewi.

Ucapan Ratna yang menuding keluarga korban dibayar karena tak ingin ribut-ribut dikecam oleh Dewi. ” Ratna itu mengecap sekolahan gak sih? Kok teganya ngomong kayak gitu. Bukannya empati malah bikin korban frustasi,” kata Dewi.

KM Sinar Bangun

Seperti diberitakan Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan terlibat adu mulut dengan aktivis Ratna Sarumpaet soal pencarian korban Kapal Motor Sinar Bangun dihentikan atau tidak. Kapolres Simalungun AKBP Marudut Liberty Panjaitan, yang berada di lokasi, mengungkap detik-detik keributan itu.

Keributan itu terjadi di posko tim pencarian KM Sinar Bangun, Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun, Sumut. Saat itu Luhut sedang bertemu dengan keluarga korban, tiba-tiba Ratna masuk ke tengah acara.

“Pada saat (Menko Luhut) ketemu keluarga korban, masuk (Ratna), Ibu Ratna Sarumpaet ‘nyeruduk’,” kata Marudut saat dihubungi detikcom, Senin (2/7/2018).

“Lagi ngomong Pak Menko, langsung dipotong (sama Ratna),” sambungnya.

Marudut menyampaikan warga pun keberatan atas aksi Ratna karena tidak ada anggota keluarga Ratna yang jadi korban KM Sinar Bangun. Dalam kesempatan itu, Ratna mengaku mewakili korban.

“Dia katanya mewakili, mewakili siapa? Tapi surat kuasa mewakilinya pun nggak ada. Dia mengatasnamakan saja. Tapi dari daftar nama korban, dia bilang ‘saya keluarga korban’. Korban yang mana? Ditanya ‘siapa korban keluargamu?’, nggak tahu dia,” ujarnya.

Situasi akhirnya kembali kondusif. Dia lalu keluar dari tenda. Dia juga minta maaf kepada panitia.

“(Acara) berjalan lancar. Tadi Ibu Ratna Sarumpaet langsung minta maaf ke kami, panitia. Dia bilang ‘kalau itu permintaan keluarga korban dia tidak di situ, ya sudah, silakan saja’. Banyak saksinya, kok,” ujarnya.

Marudut menjelaskan hasil komunikasi antara Luhut dan warga sangat bagus. Warga mengikuti kebijakan pemda, termasuk soal jenazah yang tidak mungkin ditarik ke permukaan.

“Ya benar (keluarga ikhlas) karena hasil koordinasi dengan Bapak Bupati Pak JR Saragih itu untuk tugu monumen daftar korban yang dinyatakan hilang dan meninggal itu untuk besok dibuat. Dan penaburan bunga, tadi tabur bunga di danau diikuti keluarga korban dan korban selamat pun ikut,” ujarnya.

Namun, pencarian masih tetap dilakukan sampai 4 Juli. Tim akan menyusuri pantai Danau Toba.

“Pencarian masih dilakukan, tetap. Sampai tanggal 4 (Juli) masih dilakukan pencarian, tapi tidak sedahsyat kemarin. Dan kita juga melakukan pencarian dari pantai. Harapan kita, ada jasad yang mengambang,” ujarnya.

Sebelumnya, Ratna tak setuju dengan penghentian pencarian korban KM Sinar Bangun. Di posko itu, Ratna menyampaikan pandangannya di hadapan Luhut dan banyak orang di lokasi bahwa petugas Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) tak boleh berhenti melakukan pencarian sebelum mayat-mayat korban KM Sinar Bangun diangkat dari dasar danau.

Basarnas

Hingga hari ke 14 pencarian, Minggu (1/7/2018) korban tenggelamnya KM Sinar Bangun belum juga ditemukan.

Selama pencarian, Tim Basarnas gabungan telah mengkerahkan alat canggih, penyelam andal, dan kapal-kapal untuk mencari 164 korban hilang di Danau Toba.

Rencananya pada hari ke 14 hingga 16 atau tiga hari penambahan masa pencarian, Basarnas berencana mendatangkan robot atau ROV yang dapat bekerja mengangkat korban atau mengikat korban untuk dibawa ke permukaan dari Surabaya.

Direktur Operasi Basarnas, Brigjen Bambang Suryo Aji mengaku tak dapat mendatangkan alat tersebut. Karena untuk mendatangkan alat tersebut membutuhkan waktu satu bulan.

“Kita harus melihat kondisi korban. Datang satu bulan dan belum lagi rakitnya. Bisa dua bulan. Kita harus melihat kondisi ini,” kata Brigjen Bambang usai pertemuan dengan seluruh keluarga korban di Balai Harungguan Djabanten Damanik, Pemtangraya, Kabupaten Simalungun, Minggu (1/7/2018).

Bambang mengaku sudah berkonsultasi dengan pakar atau ahli tentang pengoperasian dari alat tersebut.
“Saya tanya ahli-ahli luar negeri yang mengerti tentang ini. Mereka bilang ini sudah 14 hari, sudah tidak bisa lagi,” tambahnya.

Bambang yang memimpin pencarian di titik jatuhnya kapal atau pun di titik temuan mayat oleh ROV mengaku ini pertama kali melakukan pencarian dengan kedalaman 450 meter.

Bambang memastikan pencarian akan ditutup pada hari Selasa (3/7/2018).

“Kita tutup pencarian, tetapi tim Basarnas di Parapat tetap berjaga jika memang ada ditemukan mayat atau pun puing-puing kapal yang mengapung,” kata.
(Rizal)