Beranda BERITA UTAMA Shalat Jumat di Tanjung Priok, Kapolri Beri Tausiyah tentang Piagam Madinah

Shalat Jumat di Tanjung Priok, Kapolri Beri Tausiyah tentang Piagam Madinah

BERBAGI

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian saat menyampaikan tausiyah usai Shalat Jum’at di Masjid Al Husna Tanjung Priok Jakarta Utara, Jumat (17/3) (Foto Istimewa)


JAKARTA, kabarpolisi.com
– Kapolri Jeederal Polisi Tito mengajak semua pihak (di Indonesia) untuk meneladani konsep Piagam Madinah yang dikeluarkan di masa nabi besar Muhammad SAW.

“Melalui Piagam Madinah, nabi kita mengajarkan toleransi dengan penduduk Madinah yang berbeda suku dan agama. Meskipun berbeda-beda mereka membuat piagam bersama tapi tetap dalam tataran lakum dinukum waliadin. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku,” kata Jenderal Tito saat menyampaikan tausiyah usai Shalat Jum’at di Masjid Al Husna Tanjung Priok Jakarta Utara, Jumat (17/3).

Dalam tausiyahnya, Kapolri menekankan pentingnya bangsa Indonesia menjaga stabilitas dan persatuan. Indonesia, katanya, diktadirkan Allah dibangun di atas kemajemukan yang terdiri dari beraneka bangsa, suku, agama, dan bahasa. Hampir tidak ada negara bangsa di dunia yang memiliki keunikan seperti Indonesia dalam hal kebhinekaan.

Kapolri tiba sekitar pukul 11.50 WIB langsung disambut oleh pengurus Masjid Raya Al-Husna Sabri Saiman dan langsung duduk di shaf paling depan. Di situ juga sudah duduk Dirut Pelindo II Elvyn G Masassya. Kapolri datang ditemani Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Mohammad Iriawan dan praktisi hukum Ari Yusuf Amir.

Ribuan jemaah yang hadir tampak memberi jalan kepada Kapolri. Secara spontan mereka meneriakkan kalimat takbir sambil beberapa di antaranya menyalami orang nomor satu di korps bayangkara tersebut.

Pengurus masjid mengumumkan kepada jemaah bahwa Kapolri akan diminta memberikan tausiyah usai shalat Jumat setelah terlebih dahulu melakukan shalat ghaib untuk mantan ketum PBNU Hasyim Muzadi.

Dalam tausiyahnya, Kapolri menekankan pentingnya bangsa Indonesia menjaga stabilitas dan persatuan. Indonesia, katanya, diktadirkan Allah dibangun di atas kemajemukan yang terdiri dari beraneka bangsa, suku, agama, dan bahasa. Hampir tidak ada negara bangsa di dunia yang memiliki keunikan seperti Indonesia dalam hal kebhinekaan.

“Merawat kebhinekaan adalah tanggung jawab kita semua. Karena itu kita tidak boleh gagal dan terpecah belah. Kalau itu terjadi yang tepuk tangan adalah negara-negara tetangga,” kata Tito Karnavian.

Tito menilai, selain faktor politik global, ancaman utama bagi kebhinekaan bangsa Indonesia sebenarnya bisa berasal dari dalam negeri, yakni terjadinya kesenjangan antara kaya dan miskin akibat tidak meratanya hasil pembangunan. Itulah yang menurutnya menjadi tantangan pemerintah dari waktu ke waktu sejak 71 tahun Indonesia merdeka.

Kesenjangan ini menurut Tito harus diatasi, karena gap yang lebar antara kaya-miskin berpotensi memunculkan instabilitas. Jika stabilitas terjaga, lanjut Tito, perekonomian Indonesia yang saat ini telah berada di jalur yang benar akan terus maju dan mampu bersaing dengan negara-negara besar lainnya.

Dikatakannya, Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini sangat menggembirakan dan diharapkan terus berada di atas angka 5 persen. Tito kemudian mengutip laporan Price Waterhouse Coopers (PWC) baru-baru ini yang memprediksi Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi nomor 5 di dunia pada tahun 2030 dan akan menjadi nomor 4 pada tahun 2050 di bawah China, India, dan Amerika Serikat.

“Tapi syaratnya situasi keamanan dan politik stabil. Jangan gontok-gontokan di dalam. Jangan masih ribut soal ras, agama, dan suku yang sebenarnya telah selesai diperjuangkan oleh pendiri bangsa ini dengan semboyan bhinneka tunggal ika,” tegas Tito.

Sebaliknya, kata dia, jika terjadi kegaduhan seperti 1998, Indonesia harus memulai dari nol lagi. Hal itu akan merugikan bangsa, sementara negara lain terus berbenah untuk maju.

“Jangan sampai kita kalah dari Timor-Timur yang merdekanya tahun 99,” katanya.

Di akhir tausiyahnya, Tito mengajak semua pihak untuk meneladani konsep Piagam Madinah yang dikeluarkan di masa nabi besar Muhammad SAW.

“Melalui Piagam Madinah, nabi kita mengajarkan toleransi dengan penduduk Madinah yang berbeda suku dan agama. Meskipun berbeda-beda mereka membuat piagam bersama tapi tetap dalam tataran lakum dinukum waliadin. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku,” kata Tito. (dewi)