Beranda BERITA UTAMA Uji Materi Batas Masa Jabatan Capres/Cawapres Ditolak MK

Uji Materi Batas Masa Jabatan Capres/Cawapres Ditolak MK

BERBAGI

JAKARTA, kabarpolisi.com – Mahkamah Konstitusi (MK) menolak permohonan uji materi mengenai masa jabatan presiden dan wakil presiden. Dengan demikian Jusuf Kalla (JK) tak lagi bisa maju sebagai calon wakil presiden (cawapres).

Mahkamah Konstitusi (MK) menolak gugatan uji materi UU Pemilu terkait masa jabatan presiden/wakil presiden. Pemohon dinilai tak punya kedudukan hukum terkait gugatan.

“Menyatakan permohonan para pemohon tidak dapat diterima,” ujar Hakim Konstitusi Anwar Usman membacakan putusan di gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (29/6/2018).

Dengan putusan itu, JK otomatis tak bisa lagi maju sebagai cawapres. Padahal, Kuasa hukum penggugat, Dorel Amir sebelumnya mengatakan gugatan ini diajukan karena Jusuf Kalla, yang kini menjabat wapres, tidak bisa jadi peserta Pilpres 2019.

JK tidak bisa jadi peserta pilpres karena terbentur konstitusi dan UU No 7/2017 tentang Pemilu. Karena itu, penggugat mengajukan gugatan terhadap Pasal 169 huruf n dan Pasal 227 huruf i.

Wapres JK

Sebelumnya diketahui, MK menolak permohonan uji ketentuan Pasal 169 huruf n dan Pasal 227 huruf i Undang-Undang Pemilu tentang Masa Jabatan Presiden dan Wakil Presiden. Gugatan itu diajukan pihak yang ingin JK bisa maju lagi jadi cawapres.

Kepala Divisi Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean, mengatakan sudah memprediksi Mahkamah Konstitusi (MK) akan menolak uji materi Undang-undang nomor 17 tahun 2017 tentang pemilu terkait batas masa jabatan presiden dan wakil presiden.

Dalam aturan tersebut presiden atau Wapres yang sudah dua kali menjabat tidak boleh mencalonkan lagi.

“Sudah kami duga sejak awal gugatan itu didaftarkan di MK. Sulit menerimanya, karena legal standing pemohon,” ujar Ferdinand saat dihubungi, Kamis (28/6/2018).

BACA JUGA  Kasat Narkoba Polresta Surabaya Terima Pin Emas dari Kapolri

‎Selain itu, menurut Ferdinand, undang-undang yang digugat tersebut bunyinya sudah jelas dan tak perlu tafsir lagi. (Rizal)