BERBAGI

Wakapolda Sumut Brigjen Polisi Mardiaz Kusin Dwihananto. (Ist)

Medan, kabarpolisi.com – Wakil Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Utara Brigadir Jenderal Polisi Mardiaz Kusin Dwihananto menyebut penyebaran paham radikal marak di sekolah. Jenderal bintang satu mengingatkan bahaya penyebaran paham radikal ini seperti pada kasus bom bunuh diri di Polrestabes Medan di mana pelakunya diduga terpapar paham radikal.

“Paham radikal cukup marak di sekolah. Kemarin terjadi bom bunuh diri di Polrestabes Medan yang mengakibatkan pelaku mati di tempat, ternyata mereka terpapar paham radikal,” kata Mardiaz saat memimpin upacara peringatan Hari Guru di Medan, Senin (25/11).

Menurutnya penyebaran terjadi melalui pengajian di sekolah yang isinya mengarah pada paham radikal.
Lihat juga: Ma’ruf Minta Polisi Awasi Masjid Penyebar Kebencian

“Beberapa sekolah yang saat ini cenderung membuat pengajian, dengan menjurus dalam ‘kelompok-kelompok radikal’,” katanya.

Wakapolda meminta para guru segera menghubungi kepolisian jika menemukan kelompok-kelompok yang menyebarkan paham radikal di sekolah.

“Jadi mohon bapak ibu guru, pahami betul ketika ada kelompok dan para guru yang mencoba menyebarkan paham seperti ini, tolong diteliti. Seandainya bapak ibu dan pihak sekolah ragu, tolong hubungi polisi,” pintanya.

Nantinya kata Wakapolda, kepolisian akan melakukan analisis apakah kelompok-kelompok tersebut baik guru atau sesama murid yang menyebarkan paham ini dapat dikategorikan menyebarkan paham radikal.
Lihat juga: Kemenag Temukan Hanya 2 Pesantren Radikal dari 16 Temuan BNPT

Mardiaz melanjutkan, para pelaku tindak pidana terorisme seperti bom bunuh diri di Polrestabes Medan bukan pemeluk Islam, namun pemeluk agama sesat.

“Mereka memahami bahwa mati secara jihad itu mati paling tinggi, di surga akan dinikahkan dengan 72 bidadari. Maka ketika dia melakukan “mati syahid” dengan cara bom bunuh diri maka dia akan langsung diangkat ke surga,” katanya. (Nafi)