Beranda DAERAH Dilaporkan ke Polisi, FIF Group Bikin Ulah di Bitung

Dilaporkan ke Polisi, FIF Group Bikin Ulah di Bitung

BERBAGI

BITUNG, kabarpolisi.com– Keterlaluan perlakuan yang dilakukan oknum PT. Federal International Finance (FIF Group) kepada masyarakat. Pasalnya, diduga arogan dalam upaya penarikan kendaraan.

Salah satu yang menjadi korban adalah Karim Batalipu, warga kelurahan Sagerat Weru Satu, Kecamatan Matuari Kota Bitung-Provinsi Sulawesi Utara. Oknum yang mengaku petugas FIF Group mengambil paksa kendaraan ditengah jalan saat hendak dipakai untuk bekerja, kemarin (28/8).

Lebih memiriskan lagi, oknum FIF Group itu mengancam membunuh Karim. Bahkan Karim hampir mengalami kecelakaan saat dicegat ditengah jalan. “Ada sekitar empat orang yang mencegat. Waktu itu saya hendak pergi bekerja ke kantor saat itu saya lewat jalan 46.

Tiba tiba seorang yang mengaku karyawan FIF Group merampas motor yang saya kendarai. Saya pun bersikeras menolak tidak ingin motor diambil. Tapi orang tersebut tetap memaksa ingin mengambil motor. Saya pun coba menghindar tapi tiba tiba dicegat tiga orang rekannya yang bertubuh kekar. “Mereka bahkan hampir memukul dan mengancam ingin membunuh saya,”bebernya.

“Akibat perbuatan tidak menyenangkan tersebut, saya sudah melaporkan kejadian ini ke Polres Bitung. Jangan hanya karena kami masyarakat biasa kemudian diperlakukan seperti binatang. Apalagi ini Negara Hukum. Jika memang motor itu bermasalah pada pembayaran angsuran setidaknya bisa dibicarakan dengan baik baik atau lewat jalur hukum yakni pengadilan. Kami minta perusahaan seperti ini ditindak tegas karena merugikan masyarakat kecil,”kesalnya.

Aktivis Sulawesi Utara (Sulut), Novie Ngangi mengecam keras tindakan oknum FIF Group tersebut. Dia pun meminta pihak kepolisian menindak tegas perusahan leasing yang sering memakai Debt Collektor dengan kekerasan.

“Apapun alasan pihak FIF Group tidak dibenarkan dalam aturan dan Undang undang. Apalagi sudah memakai kekerasan. Itu sama saja dengan merampok dan merampas hak rakyat. Dan itu termasuk pidana, harus diproses sesuai hukum, “tegas Ngangi.

BACA JUGA  Diduga Main Sabu, IRT Diciduk Polisi

Ngangi menambahkan, pihak perusahaan harusnya mengerti aturan. Sebab kata dia, Kementerian Keuangan telah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 130/PMK.010/2012 tentang pendaftaran jaminan Fidusia bagi perusahaan pembiayaan yang dikeluarkan tanggal 7 oktober 2012.

Dimana menurut Undang undang No.42 tahun 1999, fidusia adalah suatu proses mengalihkan hak milik atas sesuatu benda dengan dasar kepercayaan, tapi benda tersebut masih dalam penguasaan pihak yang mengalihkan. Fidusia umumnya dimasukan dalam perjanjian kredit kendaraan bermotor, kita sebagai dibitur membayar biaya jaminan fidusia tersebut. Artinya perjanjian Fidusia ini melindungi aset konsumen.

Leasing tidak bisa serta merta menarik kendaraan yang gagal bayar karena perjanjian melarang leasing atau perusahaan pembiayaan untuk menarik secara paksa kendaraan dari nasabah yang menunggak kredit kendaraan. Fidusia umumnya dimasukan dalam perjanjian kredit kendaraan bermotor lewat pihak Notaris.

Tapi sayangnya kebanyakan dari mereka tidak memakai jalur ini karena menghindar dari biaya tambahan, kedua dengan tidak didaftarkannya perjanjian tersebut ke instansi berwenang berpotensi tidak masuknya PNBP bagi kas Negara.

Ancaman pidana bagi perusahan pembiayaan/leasing yang telah melakukan penarikan paksa terhadap kendaraan yang tertunggak, terang Novie Ngangi, maka pihak leasing dapat sanksi pasal 368, pasal 365 KUHP ayat 2,3 & 4 juncto pasal 3. Dalam KUHP jelas disebutkan, yang berhak untuk melakukan eksekusi adalah Pengadilan.

“Jadi, apibila mau mengambil jaminan, harus membawa surat penetapan eksekusi dari pengadilan. Kami berharap pihak Kepolisian menyeriusi masalah ini,”tegasnya. (H2N)