Beranda Daerah Hakim Ifa Sudewi ” Dagang” Putusan Kasus Rohadi?

Hakim Ifa Sudewi ” Dagang” Putusan Kasus Rohadi?

BERBAGI

JAKARTA, kabarpolisi.com – PNS tajir pemilik 19 mobil, Rohadi mendekam di LP Sukamiskin. Mantan panitera pengganti (PP) Pengadilan Negeri Jakarta Utara (PN Jakut) itu tak mau mendekam sendirian. Ia menyebut sejumlah hakim terlibat di balik dagang putusan Saiful Jamil.

Hal itu diuraikan dengan gamblang oleh Rohadi lewat e-book yang dibuatnya dengan judul ‘Menguat Praktek Mafia Hukum di Balik Vonis (Kasus Pedangdut Saipul Jami). Catatan Kecil Rohadi dari LP Sukamiskin’.

“Cerita tentang adanya praktek mafia hukum di pengadilan di Indonesia adalah bukan hal baru. Namun seperti apa bentuknya, bagaimana modus detailnya, belum pernah ada catatan tertulis yang menceritakannya. Kalaupun ada, mungkin hanya satu dua catatan saja,” kata Rohadi mengawali tulisannya sebagaimana dikutip media, Senin (9/4).

Cerita kasus itu dimulai saat hakim dan pegawai PN Jakut akan menghadiri resepsi pernikahan seorang pegawainya di Solo, Jawa Tengah. Selain itu, juga dijadikan ajang wisata karena sudah lama PN Jakut tidak wisata bersama. Nah, Rohadi ditugasi mencari anggaran di luar budget resmi.

“Dana yang digunakan untuk plesiran ini adalah dana awal dari ibu pengacara Bertha (pengacara Saipul Jamil), untuk perkara Saipul Jamil Rp 50 juta, dari pribadi saya Rp 50 juta, dan tambahan dari hakim Rp 20 juta. Total Rp 120 juta,” tutur Rohadi yang mengawali karier sebagai sipir penjara itu.

Tapi siapa nyana, pergerakan Rohadi sudah terendus KPK. Akhirnya, Rohadi ditangkap saat menerima uang dari Bertha jelang lebaran 2016. Rohadi belakangan dihukum 7 tahun penjara atas suap itu.

Perkara semakin rumit karena ada uang Rp 700 juta di dalam mobilnya saat kena OTT KPK. Perkara pun merembet ke anggota DPR Fraksi Gerindra, Sareh Wiyono. Sebab, uang Rp 700 juta itu berasal dari Sareh. Sareh yang juga mantan Panitera MA itu berkali-kali membantah terlibat dalam kasus itu.

Nah, di dalam penjara, Rohadi buka suara. Ia menyebut nama-nama sejumlah hakim berperan dalam kasus itu. Suami Bertha, hakim tinggi Karel Tuppu dinilai mengetahui persoalan Saipul Jamil. Ketua majelis Saipul Jamil, Ifa Sudewi juga disebut Rohadi mengetahui pat gulipat itu.

“Sebetulnya saya ingin mempertanyakan, mengapa KPK belum juga kunjung menahan nama-nama yang pernah diminta dan saya berikan saat penyidikan terhadap saya berlangsung? Namun, di sisi lain, saya juga paham bagaimana sibuknya para pejabat dan penyidik KPK hingga belum sempat menahan mereka-mereka itu,” kata Rohadi.

Sebelumnya, seluruh nama-nama yang disebut Rohadi telah membantah keterangannya di persidangan.

“Tidak pernah (membicarakan soal meringankan hukuman Saipul dengan mantan hakim anggota PN Jakarta Utara Dasman, red). Saya pernah ketemu dengan Rohadi. Dia katakan ‘Ibu selamat ya, Bu’, dia ucapkan selamat atas saya jadi Ketua Pengadilan Negeri Sidoarjo. Saya sampaikan ‘Terima kasih, nanti datang ya’. Saya hanya mengatakan ‘Nanti hadir ya’, setelah itu yang saya tahu tidak ada tiket dari ini (uang suap Saipul Jamil, red),” kata Ifa di persidangan.

Sebagai suami Bertha, Karel pun membantah terlibat.

“Saya tidak pernah dalam pikiran saya mencampuri perkara yang sedang dia (Bertha) tangani. Begitu pun sebaliknya,” cetus Karel.

Mantan Ketua PN Jakut kala itu, Lilik Mulyadi juga membantah terlibat. Nama Lilik disebut dalam buku Rohadi itu.

“Lho, tidak ada sama sekali. Buktinya kalau misalkan saya terima duit, jangankan Rp 50 juta, 1 rupiah pun tidak selamat dunia akhirat saya,” kata Lilik saat dikonfirmasi pada 19 November 2016.

Sebagaimana diketahui, Rohadi mengawali karier sebagai sipir LP Salemba pada 80-an. Kariernya menanjak dengan kekayaan aset sangat fantastis. Saat ditangkap, ia memiliki 19 mobil, rumah mewah, rumah sakit hingga proyek real estate.

Buku Rohadi

Praktek Mafia Hukum, yang dilakukan sekelompok oknum penegak hukum

Rohadi, Mantan Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Utara, yang menjadi terpidana kasus suap penanganan perkara, membuat sebuah buku yang berjudul “Menguak Praktek Mafia Hukum Dibalik Vonis”.

Dalam buku tersebut, Rohadi membeberkan fakta-fakta tentang praktek mafia hukum yang dilakukan oleh sejumlah oknum di pengadilan, dalam menangani sejumlah kasus, termasuk kasus yang menimpanya. Rohadi membuat pernyataan tentang adanya permainan antara para tersangka dan mafia hukum.

Rohadi menceritakan kronologis peristiwa hingga dirinya ditetapkan menjadi tersangka, termasuk nama oknum hakim yang terkait dalam kasusnya. Rohadi menyebut seorang Hakim bernama Ilfa Sudewi.

Berikut kutipan pernyataan yang ditulis Rohadi dalam bukunya:

“Saya sadar betul apa yang saya tuturkan didalam buku ini, terutama menyangkut nama-nama orang dan tokoh tertentu, akan menimbulkan sakit hati dan dendam”

“Tapi yakinlah, (saya meminta maaf kepada mereka yang namanya saya sebutkan dalam buku ini) tanpa kita jujur kepada diri sendiri, dan kepada lingkungan, bangsa dan negara ini akan semakin terperosok jauh ke dalam jurang permainan hukum. Hukum hanya akan menjadi ajang permainan belaka, bagi si penyandang dana dan si pemilik kuasa”

Sebelumnya Rohadi divonis bersalah karena menerima suap dari pedangdut Saipul Jamil untuk mengupayakan hukuman ringan. Rohadi juga dijatuhi hukuman atas kasus pencucian uang yang di tangani oleh KPK, hingga menyeret nama Bupati Indramayu, Anna Sophanah yang disebutnya terkait dengan sebuah mobil pajero yang diberi oleh Rohadi

Sumber Jurnalpatrolinews