Beranda HISTORIA Idi Amin, Diktator Rezim Terburuk Di Afrika

Idi Amin, Diktator Rezim Terburuk Di Afrika

BERBAGI

Idi Amin Dada adalah diktator abad ke-20 paling terkenal. Rekam jejaknya yang buas selama menjabat sebagai Presiden Uganda ke-3 dikenang seluruh dunia. Mengutip testimoni para sejarawan, Amin pernah memimpin rezim terburuk di Afrika sebagaimana Pol Pot dahulu memimpin Kamboja.

Beberapa pengamat menjulukinya “Adolf Hitler dari Afrika.” Idi Amin Dada memang sekejam Hitler di Jerman: begitu kekuasaan berhasil digenggam, salah satu program utamanya adalah genosida alias pemusnahan massal kelompok etnis yang dianggap sebagai biang kerok kekacauan negeri.

Amin merebut kursi nomor satu Uganda dengan jalan kudeta militer yang menyingkirkan Presiden Militon Oboye pada 25 Januari 1971, tepat hari ini 47 tahun lalu. Saat Amin melancarkan kudeta, Oboye sedang berada di Singapura untuk mengikuti pertemuan negara-negara Persemakmuran Inggris. 

Selain menjabat pucuk pimpinan tertinggi politik, Amin juga mendeklarasikan diri sebagai Panglima Angkatan Bersenjata, Kepala Staf Angkatan Darat, dan Kepala Staf Angkatan Udara Uganda. Undang-undang militer ia letakkan di atas hukum sipil. Para perwira di bawahnya ia tunjuk untuk mengisi posisi gubernur dan jabatan-jabatan penting lainnya.

Amin menganggap siapa pun yang masih setia pada Obote sebagai ancaman nomor satu. Para pembangkang yang kebanyakan berasal dari etnis Acholi dan Lango segera jadi target pembersihan massal.

Menurut riset Sue Lautze dari Harvard, tentara Lango dan Acholi dibantai di dua tangsi militer, Jinja dan Mbarara, pada Juli 1971. Pada awal 1972, lima ribu tentara Acholi dan Lango dibunuh. Dalam pembantaian tersebut rakyat sipil ikut dihabisi dengan jumlah korban dua kali lipat lebih banyak dari korban militer.

Genosida juga menyasar pemuka agama lokal, jurnalis, seniman, birokrat senior, hakim, pengacara, mahasiswa, kaum intelektual, terduga kriminal, dan orang asing yang kebetulan sedang berada di Uganda. Banyak juga dari mereka yang berstatus sebagai korban salah sasaran.

Selama delapan tahun berkuasa (sampai 11 April 1979), mayat orang-orang yang tak disukai Amin tergenang di Sungai Nil dan danau-danau di Uganda. Jumlah pastinya tak diketahui.  International Commision of Jurist menyebut angka 80.000-300.000 korban. Sedangkan Amnesty International mencatat 500.000 korban tewas. 

Kisah kegilaan Amin adalah racikan testimoni para saksi sejarah dengan mitos yang sengaja dibangun demi kedigdayaan citra Amin. Beberapa di antaranya isapan jempol. Namun dua cerita yang sungguh-sungguh terjadi menggambarkan tingkat kekejaman Amin yang betul-betul di luar nalar. Ia pernah melemparkan mayat korban pembantaian ke buaya peliharaannya. Amin juga dikisahkan menyimpan kepala korban di lemari pendingin—beberapa di antaranya kadang diajak ngobrol.

Satu rumor yang masih sulit dipercaya namun berkembang luas menyebutkan bahwa Amin adalah seorang kanibal. Ketika seorang reporter menanyakan rumor tersebut dalam sebuah jumpa pers, Amin menimpali:

“Aku tak suka daging manusia, terlalu asin,” ujarnya sambil tergelak.

Prajurit Kesayangan Tentara Kolonial Inggris

Narasi yang mengatakan bahwa “begitulah sifat orang Afrika jika diberi kendali kekuasaan” tidaklah tepat—bahkan bisa dikatakan rasis dan melanggengkan praktik kolonialisme. Kebuasan Amin tak muncul dari ruang hampa, melainkan efek dari praktik kolonialisme Inggris itu sendiri.

Uganda berada dalam kekuasaan Protektorat Inggris sejak 1890-an, ketika 32.000 buruh dari India—saat itu di bawah kekuasaan Inggris—diboyong ke Afrika Timur untuk dipekerjakan dalam proyek kereta api. Sebagian besar bisa pulang, tapi 6.724 lainnya tetap tinggal di Uganda untuk jadi pedagang, mandor produksi pemintalan kapas, atau pekerjaan lainnya.

Fase tersebut mengawali perkembangan populasi orang Asia di Uganda, yang sebagian di antaranya lebih mapan secara ekonomi ketimbang rakyat Uganda sendiri.

Beberapa peneliti menunjukkan bahwa Tentara Kolonial Inggris berperan penting membesarkan Amin. Pada 1946, Amin bergabung dengan King’s African Rifles atau KAR, batalion Tentara Kolonial Inggris yang berisi campuran prajurit Inggris dan prajurit dari wilayah Afrika jajahan Inggris.

Karier Amin di KAR terbilang cemerlang. Awalnya ia cuma asisten juru masak di tangsi, tapi beberapa tahun berselang karirnya melesat ke posisi Letnan (tak hanya itu, dia letnan pribumi Uganda pertama!). Amin dilatih secara intensif untuk membantu Inggris melawan pemberontak Somalia dalam Perang Shifta dan pemberontak Mau Mau di Kenya.

Usai kemerdekaan Uganada pada 1962, Amin dipromosikan sebagai kapten dan setahun kemudian pangkatnya naik jadi mayor. Ia diangkat sebagai Wakil Komandan Angkatan Darat pada tahun 1964, dan tahun berikutnya sebagai Panglima Angkatan Darat. Pada 1970, setahun kudeta militer terhadap Presiden Obote, Amin dipromosikan sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Uganda.

Amin adalah prajurit kesayangan Tentara Kolonial Inggris. Perawakannya yang tinggi (193 cm) dan atletis (mantan juara tinju kelas berat periode 1951-1960, juga atlet renang dan rugby) membuatnya mudah bersaing dengan tentara lain di lapangan, meski sebenarnya ia buta huruf. Amin jadi sosok penting di tiap operasi militer Inggris di tanah Uganda.

Kendati kerap berlaku sadis di lapangan, Amin selalu lolos dari hukuman. Pada 1962, ia ditugaskan untuk menyelidiki perselisihan terkait ternak yang melibatkan beberapa suku di Turkana, Kenya. Begitu tugasnya berakhir, lokasi perselisihan menjelma ajang pembantaian dengan korban para warga desa. Menurut para saksi, Amin adalah otak dari pembantaian tersebut.

Tapi Amin beruntung; otoritas Inggris di Kampala memutuskan tak menjatuhkan hukuman. Mereka menilai Amin terlalu berharga untuk dihukum. Ia memang sudah dipersiapkan mengisi jabatan penting dalam tubuh militer Uganda setelah menjadi negara mandiri. Harapan ini tercapai, hanya saja Inggris rupanya secara tak sadar bahwa mereka telah membesarkan seorang monster yang akhirnya menyeret rakyat Uganda ke neraka selama hampir satu dekade.

Inggris sebagai Otak di Balik Kudeta Amin

Narasi yang terangkum dalam buku Dirty Work 2—The CIA in Africa karya Pat Hutton dan Jonathan Bloch menyebutkan fakta yang lebih mencengangkan lagi: Amin adalah boneka barat yang dipasang dan dipelihara oleh kekuatan Barat, terutama oleh dan demi kepentingan Inggris.

Penyebab utamanya bisa dilacak sejak 1960-an saat Obote mulai mengonsolidasikan kekuatan dan menerbitkan undang-undang yang yang merugikan kepentingan ekonomi negeri eks-penjajah. Meskipun Obote bukan Fidel Castro atau Julius Nyerere (aktivis anti kolonial Tanzania), nasionalisasi 80 perusahaan Inggris oleh Obote bukanlah kebijakan yang disenangi London.

Hutton dan Bloch membongkar rencana Inggris melalui cerita Rolf Steiner, seorang veteran tentara bayaran Jerman, yang menuliskan kisahnya di buku autobiografi berjudul The Last Adventurer.

Di akhir tahun 1960-an, Steiner ditugaskan oleh Pemerintah Israel untuk mendukung gerakan pemberontak Anya-Nya di Sudan bagian Selatan. Pemberontakan tersebut dirancang untuk menggoyang pemerintahan Sudan yang saat itu beraliansi dengan negara-negara Arab. Lewat misi ini, Israel ingin memastikan tak ada aliran dukungan dari Sudan ke bagian barat Mesir selama periode konflik Arab-Israel.

Pada suatu hari ia dikenalkan dengan seorang veteran tentara bayaran asal Inggris bernama Alexander Gay. Gay mengatakan bahwa dirinya mengemban tugas yang sama Steiner, yakni menggoyang stabilitas pemerintahan Sudan dengan memakai tangan pemberontak Anya-Nya.

Steiner tak percaya begitu saja. Pada suatu kesempatan, Steiner memaksa Gay untuk memberi tahu misi sebenarnya mengapa ia dikirim ke selatan Sudan. Gay akhirnya mengaku bahwa perkara Sudan dan pemberontak Anya-Nya hanyalah dalih. Pemerintah Inggris tak menanam kepentingan apapun di tempat tersebut. Misi Gay sebenarnya adalah untuk mengkudeta atau membunuh Presiden Obote dan menaikkan Amin sebagai rezim pengganti.

Mengapa Amin? 

“Pemerintah Inggris mengenal betul Idi Amin dan ia jadi pilihan pertama mereka, sebab dia adalah orang terbodoh dan paling mudah dimanipulasi,” kata Gay kepada Steiner, sebagaimana dinarasikan kembali oleh Hutton dan Bloch.

Inggris bergembira saat mendengar keberhasilan kudeta Amin. Media-media nasional seperti Daily Telegraph, The Times, dan The Daily Express mengangkat tajuk utama tentang masa depan Uganda yang lebih cerah. Amin melakukan denasionalisasi beberapa perusahaan negara. Pada Juli 1971 ia melawat ke London untuk bertemu Ratu Inggris dalam sebuah jamuan makan siang. Inggris menyalurkan bantuan ekonomi sebesar 10 juta poundsterling dan sejumlah peralatan militer.

Sayangnya, bulan madu ini hanya bertahan sebentar. Selang beberapa tahun usai berkuasa, Amin menampakkan wajah sejatinya.

Kekuasaan absolut membuat Amin sewenang-wenang mengambil kebijakan dalam dan luar negeri. Ekonomi Uganda kolaps sebagai buntut dari kebijakan pengambilalihan properti milik orang Asia dan Eropa.  Penduduk Asia, yang kebanyakan berasal dari India, berjumlah sekitar 80.000 dan kebanyakan memiliki perusahaan besar yang menjadi tulang punggung ekonomi Uganda. Kebijakan Amin membuat perusahaan-perusahaan tersebut macet dan berdampak signifikan bagi ekonomi Uganda secara umum.

Inggris akhirnya menarik dukungan kepada rezim Amin dengan beberapa pertimbangan. Pertama, pembantaian Amin terhadap warganya sendiri. Dua, kedekatan Amin dengan negara-negara berhaluan sosialis seperti Uni Soviet dan Libya.

Ketiga,  manuvernya pada Juni 1976 yang mengizinkan pesawat Air France dari Tel Aviv ke Paris yang sedang dibajak oleh dua anggota Front Rakyat untuk Pembebasan Palestina (PFLP) dan dua anggota German Revolutionäre Zellen untuk mendarat di Bandara Entebbe. Israel, sebagai anak kesayangan Inggris, menyelesaikan perkara ini lewat Operasi Entebbe yang digencarkan sebuah pasukan angkatan bersenjata Israel.

Sumber: Tirto.id