oleh

Bentrokan Dua Kelompok Massa di Pancoran, Musta’in : Kami Bantu Selamatkan Aset Negara

Drs. Mustain SPd

JAKARTA – Tokoh Pemuda Jakarta Selatan yang juga anggota Pemuda Pancasila Mustain, S.Pd menyesalkan tuduhan berbagai pihak yang menyebutkan PT. Pertamina melibatkan preman dalam bentrokan yang terjadi di Jalan Pancoran Buntu II, Jakarta Selatan pada Rabu (18/3/2021) dipicu karena sengketa lahan.

“Kami bukan preman. Apalagi dibayar untuk membela PT. Pertamina. Itu tuduhan yang sangat keji. Kami hanya membantu pemerintah dalam hal ini PT. Pertamina untuk menyelamatkan aset Negara dari penghuni tanpa hak yang sudah menikmati dan memanfaatkan bertahun- tahun. Harusnya sebagai warga negara yang baik para penghuni berterima kasih sama pertamina, yang masih menganggarkan tali asih atau kerohiman untuk keluar dari lahan tersebut.

Menurut Mustain justru pihak yang mangaku warga itu yang melibatkan oknum LSM dan Mahasiswa untuk menjaga lahan yang masih yang 100 persen adalah milik pertamina.

“Masa sebagai warga negara kami tidak boleh membela Pemerintah? Kami tidak punya kepentingan pribadi di sini. Ini semata-mata panggilan hati nurani. Namun upaya kami melakukan dialog baik-baik diprovokasi oleh oknum yang tergabung dalam Solidaritas Forum Pancoran Bersatu. Akhirnya terjadi bentrokan. Alhamdulillah pihak kepolisian cepat tanggap dan tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, ” Kata Mustain yang juga Pemimpin Redaksi media online Mediapolisi.com tersebut.

Mustain mengatakan, mengingat di lahan pertamina ada ranting Pemuda Pancasila Kelurahan Pancoran dan melihat dokumen2 pertamina lengkap maka antara PP dan Pertamina menjalin kemitraan kerjasama, diantaranya adalah pemagaran, menjaga keamanan lahan, sosialisasi, approach warga dan menjaga pembongkaran alat berat (excavator) bagi rumah atau bangunan yang sudah mendapatkan tali asih / kerohiman.

Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Azis Andriansyah mengatakan, insiden bentrokan yang terjadi di Jalan Pancoran Buntu II, Jakarta Selatan pada Rabu (18/3/2021) dipicu karena sengketa lahan.

Proses hukum lahan seluas 4,4 hektare itu melibatkan PT Pertamina dan warga yang mengaku ahli waris. Azis melanjutkan, proses lahan pertamina tersebut sebenarnya masih berjalan.

Namun, ada beberapa pihak yang kemudian melakukan pembelaan terhadap dua pihak yang sedang berperkara di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan tersebut.

Namun masing-masing pihak, dari Pertamina dan warga ini, ada yang membela masing masing. Nah, antar kelompok pembela inilah yang kemudian bersengketa di lapangan,” kata Azis di Mapolrestro Jakarta Selatan, Kamis (18/3/2021) malam.

Apa Kepentingan Mahasiswa?

Mustain menyayangkan pemberitaan beberapa media yang menyebut pihaknya dibayar. “Kalau gak punya bukti jangan ngomong sembarangan. Jangan ngarang. Itu merugikan kami sebagai pemuda yang ingin membantu menyelamatkan aset negara. Kami dibayar hati nurani kami, ” Kata Pemuda yang aktif dalam kegiatan kepemudaan di Pasar Minggu Jakarta Selatan itu.

“Solidaritas Forum Pancoran Bersatu itu siapa? Itu kan sebagian LSM dan oknum mahasiswa yang tidak ada hubungannya dengan lahan. Siapa yang mengajak mereka. Apa kepentingan mereka. Hal ini harus di gali pihak kepolisian sampai tuntas. Harusnya mereka tabayun dulu ke Pertamina sebelum agar ga gagal paham. Bukan dengan jalan ngajak ribut dan kemudian seolah-olah seperti korban kemudian teriak2 jadi korban, ” tegas Mustain

Apalagi Leon Alvinda Putra yang mengaku pimpinan Solidaritas Forum Pancoran Bersatu itu bukahkah Ketua BEM UI, menurut Mustain punya kepentingan apa terhadap lahan itu. “Kenapa dia ngotot dan selalu menyalahkan pertamina. Kalau memang peduli tidak perlu mengerahkan massa dan ngajak ribut, ” ujar Mustain yang didampingi beberapa pemuda yang pro Pertamina.

Mustain mengingatkan tidak ada keterlibatan Ormas dalam insiden ini. “Saya kebetulan saja sebagai anggota Pemuda Pancasila Jakarta Selatan. Saya ingatkan kepada siapapun tidak ada Ormas terlibat dalam kegiatan ini apalagi dibayar. Apalagi bikin rusuh. Itu hoaks, ” Kata Mustain dengan nada keras.

Sekali lagi Mustain menghargai upaya pihak kepolisian Jakarta Selatan menjaga kondusifitas Pancoran. “Jangan ada pula yang bilang Polri tidak professional. Kapolrestro Jakarta Selatan sangat professional. Orang yang ngomong gitu asbun. Gak ngerti masalah atau jangan2 mereka provokator yang juga bagian dari pihak yang bertikai, ” kata Mustain.

Menurut Kapolrestro Jakarta Selatan Kombes Azis Andriansyah dua kelompok itulah yang malah bertikai. Pasalnya, proses hukum antara PT Pertamina dan warga hingga kini masih berlangsung.

“Ini yang harus kami cegah supaya masalah pokoknya tidak kabur, tidak bias, karena ada di luar masalah pokok,” sambungnya.

Azis mengatakan, belum ada orang-orang yang diamankan terkait bentrokan tersebut. Azis yang sempat datang ke lokasi kejadian mengaku sempat meradam bentrokan agar tidak semakin meluas.

“Jangan sampai masalah pokonya bias, masalah pokoknya kan masalah siapa yang memiliki lahan yang sah. Tapi kalau tidak saya redam, itu masalah justru pokoknya kabur malah ada masalah lain gitu,” beber Azis.

Lebih lanjut, Azis mengimbau agar pihak-pihak lain untuk tidak ikut campur dalam perkara ini. Sebab, hal itu akan memicu konflik layaknya insiden semalam.

“Sebaiknya masing-masing pihak, di luar pihak utama, jangan turut campur, harusnya begitu. Harusnya sekali lagi jangan mengkaburkan masalah pokok. Masalah pokok kan antara warga dan pihak Pertamina. Biarkan proses hukum maupun mediasi berjalan.”

Ombudsman Ngawur

Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jakarta Raya Teguh Nugroho meminta Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendalami keterkaitan organisasi masyarakat (ormas) dengan PT Pertamina dalam sengketa lahan di Pancoran, Jakarta Selatan.

Dia mengatakan, harus dijelaskan hubungan kerja sama antara PT Pertamina dan ormas yang dikerahkannya yang berujung bentrokan di tempat sengketa lahan antara warga Pancoran Buntu II dengan PT Pertamina.

“Hal ini untuk memastikan anggaran BUMN yang dipergunakan untuk pengamanan tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan tidak menjadi pemicu konflik horizontal,” kata Teguh dalam keterangan tertulis, Jumat (19/3/2021).

Menanggapi pernyataan Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jakarta Raya Teguh Nugroho Mustain tertawa geli.

“Gak ngerti masalah tapi sok komentar. Ombudsman ngawur. Hanya cari panggung. Norak, ” kata Musta’in.

Ceko Handoko

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed