BERBAGI

Sungai Ciliwung kini (Foto: MI/Ramdani)

kabarpolisi. com – Ukuran Sungai Ciliwung belum normal. Daya tampung air masih jauh dari ideal. Karena itu, beberapa wilayah di Jakarta masih sering kebanjiran.

“Saat ini daya tampung baru 200 m3/detik. Idealnya yang kami rencanakan 570 m3/detik,” kata PPK Sungai dan Pantai II Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane Fikri Abdurrahman kepada Metrotvnews.com di Jakarta, Senin (27/2/2017)

Ambang atas daya tampung yang tinggi akan membuat air dari Ciliwung tak meluber jika tinggi muka air naik. Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane mengebut pengerjaan proyek normalisasi Sungai Ciliwung selama empat tahun belakangan.

Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane merencanakan pelebaran Sungai Ciliwung 35 meter-50 meter agar daya tampung ideal. Sempadan sungai akan dibuat jalan inspeksi dengan lebar 6 meter-8 meter agar ketika sungai meluap warga tidak terdampak langsung.

Sebenarnya, kata Fikri, Sungai Ciliwung 30 tahun lalu tidak memerlukan daya tampung tinggi karena daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung masih sehat. Tanah masih luas, penampang banjir masih ada, pohon dan tanaman penyerap air masih rimbun di bantaran sungai.

Pada 1972, air yang diserap tanah masih di atas 30 persen dan rasio air mengalir ke sungai (run off) masih sekitar 50 persen. Namun pada 2016, hanya 6 persen air hujan yang diserap tanah.

Air hujan yang turun dan langsung mengalir ke sungai mencapai 85 persen. Akibatnya sungai meluap, arus menjadi deras, warga bantaran sering kena banjir.

Sejak 1972, tercatat 10 kali banjir besar menyerang Jakarta. Siklus lima tahunan ini acap membuat sebagian warga Ibu Kota terendam hingga dua meter. Bahkan beberapa kali Jakarta lumpuh karena banjir.

Berkurangnya ruang hijau di sepanjang bantaran kali membuat Ciliwung semakin kritis. Air hujan tak lagi mampu ditahan dalam tanah. Perubahan besar ini juga hasil pembangunan tanpa memperhatikan daerah aliran sungai. Penyempitan Ciliwung karena ulah manusia tak bisa dihindari.

“Ciliwung lebih lebar dari yang sekarang. Karena itu, kami perlu melakukan normalisasi Ciliwung,” kata Fikri. Selain normalisasi, juga dibangun beberapa sodetan untuk mengurai debit air di musim hujan. (rizal)