BERBAGI

AIPTU JAKARIA

Jakarta, Kabarpolisi.com – Ada kisah menarik dari polisi penangkap ‘Raja Reman Jakarta John Kei, Aiptu Jakarta.  Selama bertugas Aiptu Jakaria atau lebih dikenal dengan nana samaran Jacklyn Choppers sudah dua kali menangkap John Kei. Tetapi menariknya saat dilakukan penangkapan John Kei dan anak buahnya tidak pernah melawan sama sekali.

Nama Aiptu Jakaria menjadi sangat terkenal di jajaran Polda Metro Jaya dan warga Jakarta, karena selalu ada dalam penangkapan pelaku kriminilitas kelas kakap, termasuk John Kei yang sangat dikenal sebagai preman besar di Jakarta.

Bang Jack, begitu -sapaan akrabnya- adalah polisi unik. Dia memiliki rambut gondrong pirang dan bertato. Dia memiliki ciri khas mengenakan topi ketika menangkap pelaku kriminal. Namun jangan salah, dia merupakan seorang anggota Subdit Jatanras, Ditreskrimum Polda Metro Jaya.

Bang Jack merupakan alumni bintara kepolisian pada tahun 1995 silam. Dia menjalani pendidikan Kepolisian di Lido, Sukabumi, Jawa Barat selama 11 bulan. Selesai pendidikan, Jack ditempatkan di Polres Jakarta Pusat selama 4 tahun.

“Kebetulan gue pendaftaran di Polda Metro,” ucap Jack saat ditemui di Jatanras Pola Metro Jaya, Jumat (26/6/2020) seperti dikutip situs berita Akurat.Co.

Kemudian, Bang Jack dimutasi ke Jatanras Polda Metro Jaya pada tahun 2000 dan di sini namanya mulai terkenal. Bang Jack hampir selalu ada dalam pengungkapan kasus-kasus besar oleh Jatanras.

Di antaranya dia pernah terlibat dalam penangkapan komplotan perampok mesin pengisi ATM pada 2006. Kasus itu menggegerkan publik, sebab para pelaku berhasil membawa kabur Rp2,8 miliar di kawasan Cawang, Jakarta Timur.

“Dalam kasus itu, ada 1 tersangka yang melarikan ke Cipacing, Rancaengkek, Bandung, Jawa Barat. Pertamanya kelompok ini sudah ditangkap dan ketika dilimpahkan tahap 2, otak perampokan ini bisa melarikan diri,” terangnya.

Pada 2007, Jatanras Polda Metro Jaya bersama jajaran Polda Jawa Barat melakukan penangkapan terhadap tersangka. Kata Bang Jack, penangkapan otak pencurian uang itu sempat terjadi baku tembak, kondisinya malam hari.

Saat itu, Bang Jack tertembak. Sebelas peluru dari tersangka perampokan mengarah ke tubuhnya.

“Ada 11 peluru, 2 di jantung, 1 dekat ulu hati, 2 di dekat lambung, 2 di sebalah kanan dekat ginjal, tangan kiri 3 dan tangan 1. Tangan kiri karena ancur menyatu sama tulang akhirnya ga diangkat pelurunya. Sempat disarankan amputasi,” terangnya.

Bang Jack mengaku menolak saran untuk mengamputasi tangannya. Dia yakin Tuhan akan menjaga sebaik-baiknya.

“Karena gue berpikiran harus sembuh, anak-anak gue pada masih kecil,” ucap dia.

Tangkap John Kei 2 Kali

Bang Jack memiliki prinsip bahwa polisi tidak boleh takut dengan para preman atau pelaku kejahatan. Hal ini yang membuatnya tidak pandang bulu terhadap pelaku kriminal, sekalipun orang yang dihadapinya preman sadis sekelas John Refra atau John Kei.

Pria kelahiran 2 Februari 1975 dari Tim Jatanras itu ternyata sudah dua kali menangkap John Kei. Pertama, Bang Jack ikut dalam penangkapan John Kei dalam kasus pembunuhan terhadap PT. Sanex Steel Tan Hary Tantono di Swiss Bell Hotel pada 2012 lalu.

Delapam tahun kemudian, tepatnya pada 21 Juni 2020, John Kei kembali dibekuk Tim Gabungan Jatanras, Resmob, Polres Metro Tangerang Kota dan Polres Bekasi. Lagi-lagi, Bang Jack ada di lokasi penangkapan.

“Jadi sudah dua kali kami (Jatanras) lakukan penangkapan kepada John Kei,” kata Bang Jack.

Jack mengaku tidak ada rasa khawatir terhadap pergerakkan John Kei dan anak buahnya yang akan melakukan aksi balas dendam. Sebab, kata dia John Kei dan anak buahnya dinilai baik kalau tidak diusik.

“Pada dasarnya mereka baik. Karena masalah internal. Kita juga terangin ketika menangkap, kita dari Polda Metro Jaya menjalankan tugas, siapapun yang melanggar hukum pasti kami akan tindak juga,” tuturnya.

Kata Bang Jack, John Kei tidak melakukan perlawanan dan hanya mengikuti prosedur kepolisian untuk kembali menjalani proses hukum. 

Suka Duka di Kepolisian

Menjadi anggota Polisi selama 24 tahun, Bang Jack merasakan suka dan duka. Selain ditembak pelaku kejahatan 11 peluru, ternyata ia juga sempat dikeroyok 40 orang ketika menyelamatkan rekannya yang dikeroyok pelaku judi.

Sayangnya, ia tidak menceritakan secara detail lokasi pengeroyokan itu dan kapan waktunya. Yang jelas, ia sempat dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusomo untuk dirontgen.

“Tapi gak apa-apa sampai sekarang gue masih sehat,” akunya.

Selain itu, istrinya juga hampir menjadi korban penculikan karena ketenarannya di dunia kepolisian dalam mengungkap kasus kejahatan. Beruntung, Tuhan menyayangi keluarganya hingga aksi penculikan itu pun berhasil digagalkan.

“Ya karena kita kerja ikhlas, jadi saya gak pernah berpikir yang macem-macem. Dua kali istri saya mau diculik,” tandasnya.

Dikutip Ulang
Awaluddin Awe