BERBAGI

JAKARTA, kabarpolisi.com – Tidak selamanya perjuangan penuh dedikasi dan tidak kenal lelah akan selalu berbuah manis. Meski Metro Mini sejak beberapa tahun terakhir ini dibelit situasi sulit, Nofrialdi, direktur utama PT. Metro Mini tidak mau menyerah untuk menyelamatkan armada transportasi angkutan publik tersebut. Carut-marut kondisi keuangan dan setumpuk permasalahan lain di perusahaan yang lebih berbau koperasi itu, disiasatinya dengan berbagai cara, agar roda perusahaan tetap berputar. Memang tidak mudah mengurai benang kusut yang telah melilit perusahaan itu. Dualisme kepengurusan di tubuh perusahaan masih tetap jadi persoalan utama. Apalagi, pada saat yang sama Nofri, sebagai orang yang paling bertanggung-jawab atas kelangsungan hidup perusahaan, harus selalu bisa menyediakan biaya operasional perusahaan yang tengah sekarat itu. Tapi, yang pasti, sejauh ini Nofri, cukup sukses mengatasi berbagai permasalahan tersebut, malah bisa membawa PT. Metro Mini menuju era baru bagi semua pemegang saham.

Kerjasama dengan PT. Trans Jakarta sudah ditanda-tangani untuk pengadaan ratusan unit Mini Trans. Itu artinya, ada lompatan kemajuan nyata dilakukannya untuk perusahaan. Sayangnya, dibalik semua kesuksesan itu, sebuah masalah baru yang cukup serius tengah menghadang langkahnya. Dia dilaporkan ke Polda Metro Jaya (PMJ) dengan dugaan penggelapan dan pemalsuan dokumen. Pihak pelapor, Jhon P Gultom menuding Nofri telah melakukan penggelapan uang perusahaan tidak kurang dari 2,4 Milyar Rupiah yang diduga terjadi pada tahun 2016.Tidak hanya itu, dia juga diduga telah memalsukan dokumen Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

Walaupun sampai saat ini Nofri belum diperiksa pihak PMJ, tapi jerat hukum tersebut cukup menyita waktu dan energinya untuk menyiapkan semua bukti-bukti yang tentu akan diminta penyidik. Padahal, cukup aneh jika dugaan penggelapan dan pemalsuan dokumen PBB diarahkan padanya. Pertama, dari mana perusahaan yang tengah dibelit masalah keuangan bisa punya kas yang sebegitu banyak. Kedua, Nofri sama-sekali tidak punya kepentingan untuk memalsukan dokumen PBB, dua tuduhan yang memang terkesan mengada-ada.

Hal tersebut di atas disampaikan Nofri di ruangan kerjanya, Kantor PT. Metro Mini di bilangan Jalan Pemuda, Jakarta Timur.

” Berbagai tudingan itu lebih terkesan mencari-cari kesalahan,” jelas Nofri

selanjutnya. Kenapa dugaan penggelapan dan pemalsuan yang terjadi pada tahun 2016 baru dilaporkan sekarang? Padahal, laporan pertanggungan jawaban keuangan dilakukan tiap tahun, sewaktu Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan diaudit oleh akuntan publik. Nofri memperlihatkan dokumen laporan akuntan publik dan mempersilahkan kabarpolisi.com untuk memverifikasi keabsahan dokumen tersebut.

Nofri sangat sadar bahwa semua ini bentuk perlawanan dari kubu seterunya. Konflik semakin meruncing setelah RUPS di awal tahun 2020 dan Nofri kembali dinobatkan secara aklamasi sebagai Direktur Utama untuk masa tugas 2020-2025. Hasil RUPS tersebut sudah dituangkan ke dalam akte Notaris dan sudah mendapat pengesahan dari Direktorat Sistem Administrasi Badan Hukum, Kementerian Hukum dan HAM.

Menurut seorang praktisi hukum yang mengamati pertikaian dua kubu tersebut, pelaporan Nofri pada pihak berwajib jelas sekali dipaksakan. Seolah ada sesuatu yang disembunyikan dibalik laporan polisi itu.

Kabarpolisi.com juga menerima informasi dari berbagai sumber, bahwa perseteruan berebut tahta Metro Mini memang berlangsung semakin panas dan memasuki babak baru. Berbagai pihak diduga terlibat dalam konflik tersebut. Malah, ada pemilik modal yang sama sekali tidak ada urusan dalam perusahaan transportasi publik itu, juga ditenggarai sudah ikut memperkeruh suasana. Sepertinya, sebuah konspirasi untuk menumbangkan Nofrialdi sebagai direktur utama, sudah terbentuk dan bergerak secara masif. Bahkan pihak PT. Trans Jakarta juga tidak terhindarkan sudah menerima propaganda hitam, agar kerjasama dengan PT. Metro Mini ditinjau ulang. Semua strategi untuk melengserkan Nofrialdi dari pucuk pimpinan Metro Mini seolah halal dilakukan kubu lawannya. Kini, pertikaian panjang itu telah masuk ke ranah hukum. Bagi Nofri, ini hanya sebuah konsekwensi yang harus dia terima untuk membela perusahaan. Dia sepenuhnya menyerahkan urusan ini ke proses hukum yang sedang berjalan.

Memang, terkadang sebuah dedikasi tidak selalu berbuah manis. Adakalanya, semua itu justru menuai prasangka dan kecurigaan.

( Muhammad Rizal )