Beranda OPINI Ari Soemarno di Balik Pencopotan Dwi Sutjipto dan Elia Massa Manik

Ari Soemarno di Balik Pencopotan Dwi Sutjipto dan Elia Massa Manik

BERBAGI

Baru-baru ini publik dikejutkan oleh pencopotan Elia Massa Manik secara mendadak oleh Menteri BUMN Rini Soemarno dari jabatan Dirut Pertamina, banyak media dan analis analis energy serta analis politik tercengang dengan pencopotan itu. Bahkan bertanya-tanya ada apa dibalik pencopotan Elia Massa Manik.

Beberapa media sudah mencium bahwa apa yang terjadi dalam pencopotan Elia Massa Manik bagian dari permainan politik. Banyak pihak masih memperkirakan pencopotan ini terkait dengan adanya dugaan pencitraan pemerintah dalam kebijakan pengadaan premium, dimana harga premium sangat sensitif terhadap situasi politik jelang Pilpres.

Namun di lain pihak bagi yang mengerti banyak permainan-permainan di dalam tubuh Pertamina, pencopotan Elia Massa Manik lebih pada tikungan terpenting Ari Soemarno di dalam tubuh Pertamina.

Ari Soemarno, adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap pencopotan Elia Massa Manik dan juga dirut sebelumnya Dwi Soetjipto.

Bagaimana Ari Soemarno bisa begitu berkuasa di Pertamina dan permainan permainan apa yang diciptakannya sehingga mengarahkan Pertamina menjadi sapi perah politik dimana seakan-akan Presiden dilempari kotoran secara halus, sementara Ari Soemarno yang menikmati susu sapi Pertamina dan dari permainan ini kemudian menjadikan Pilpres 2019 sebagai langkah penyaluran logistik ke pihak lawan Jokowi, sehingga Ari Soemarno dan adiknya Rini Soemarno bisa main di dua kaki, di satu sisi seakan akan berada di belakang Jokowi, tapi di sisi lain mengamankan lawan Jokowi, tapi sudah jadi watak keluarga Soemarno, menikam orang yang menjadi pelindungnya dan mendapatkan semua keuntungan politik dengan cara yang sangat jahat, banyak sudah menjadi korban akibat penikaman politik ini dan yang paling dibaca publik adalah “penikaman politik terhadap Megawati” lalu dengan watak seperti ini dan bermain di dua kaki, menjadi satu kemungkinan besar “Jokowi-lah yang ditikam secara politis” jelang pilpres 2019 dan pencopotan Elia Massa Manik serta Dwi Soetjipto sebelumnya, merupakan langkah langkah bidak catur Ari Soemarno dalam menguasai Pertamina, dan kemudian menguasai dunia politik di Indonesia. Jaringan mafia energy yang dibangunnya adalah bagian penting untuk menguasai Indonesia, Ari Soemarno paham politik energy adalah kunci dalam menguasai sebuah negara.

Jalan Tikus Ari Soemarno Menguasai Pertamina

Sejak awal karirnya Ari Soemarno sudah bekerja di Pertamina, awalnya ia bekerja di LNG Bontang tahun 1978 sebagai teknisi pengolahan LNG, selama 16 tahun ia menikmati kerjanya di Bontang, meski ia sempat terpinggirkan selama 10 tahun karena adanya kasus tender di sana.

Namun kemudian karier Ari Soemarno melonjak ketika ia dipromosikan ke jabatan Staff Khusus Direktur Hilir Pertamina. Dari sinilah ia mempelajari dengan detil bagaimana “permainan-permainan perdagangan” di Pertamina, dan mendapatkan kesimpulan bahwa kekayaan sesungguhnya di Pertamina adalah “permainan perdagangan Pertamina”.

Karena ini juga menyangkut hidup matinya rakyat Indonesia, dibalik itu terdapat duit yang teramat banyak dan siapa yang menguasai perdagangan dalam tubuh Pertamina dialah yang bisa menguasai Indonesia.

Kecerdasan tinggi Ari Soemarno membaca arus perdagangan Pertamina, rupanya dibaca juga oleh adiknya Rini Soemarno yang saat itu menjabat Menteri Perindustrian di tahun 2003, ia menjaga karir kakaknya dan kemudian tanpa disangka Ari bisa menembus menjadi Dirut Petral (Pertamina Trading Limited), disinilah kemudian Ari Soemarno belajar banyak dari Reza Chalid.

Jelang Pemilu 2004, ada permainan penting Ari Soemarno dalam dunia politik, sebagai upaya menguasai Pertamina.

Ia adalah orang dibalik penggagalan Jusuf Kalla menjadi Cawapres Megawati, dan kemudian meyakinkan JK untuk bergandengan dengan SBY, ia melihat arah angin politik bahwa JK sebenarnya menjadi kunci kemenangan 2004, siapa yang bergandengan dengan JK bisa menguasai wilayah Indonesia Timur. Oleh Ari Soemarno dilakukan operasi politik dimana kemudian secara cerdik mengarahkan Megawati berdampingan dengan Hasyim Muzadi, dan Jusuf Kalla diarahkan berdampingan dengan SBY.

Bila Rini Soemarno, sebagai bagian dari Kabinet Megawati, mendekat ke Mega. Maka tugas kakaknya Ari Soemarno adalah merapat ke SBY.

Ari bisa yakin SBY menang menghadapi petahana Megawati, karena faktor “Mega tidak disukai Amerika” dan kemudian Ari Soemarno-lah yang mengatur Blok Cepu dilepas ke Exxon, sebagai kompensasi apabila SBY menang dalam Pilpres 2004.

Ternyata prediksi Ari Soemarno benar, bahwa SBY-lah pemenang Pilpres 2004 disinilah SBY memberikan balas jasa kepada Ari Soemarno untuk menjabat Dirut Pertamina, dan agenda utama adalah “memberikan konsesi operator Blok Cepu kepada Exxon”, sebagai balas jasa dukungan Amerika kepada SBY.

Sementara Pertamina ditinggalkan, dari sinilah apa yang dicita citakan sebagai Kedaulatan Energy digadaikan dalam kemenangan SBY dimana Ari Soemarno bertindak sebagai eksekutor pengalihan dari Pertamina ke Exxon.

Singkat waktu Ari Soemarno merasa sudah harus membangun “negara di dalam negara” di entitas Pertamina, negara kecil itu adalah ISC, dimana ia melihat Indonesia sangat bergantung dengan impor minyak, dari sinilah ia juga mulai berpikir untuk memegang kendali politik di Indonesia ada pada ISC yang menjadi penjaga supply minyak dan juga tanpa disadari menjadi gantungan hidup jutaan rakyat Indonesia.

Untuk memperkuat ISC maka ia harus menarik Petral ke dalam kendali dirinya, inilah proyek besar Ari Soemarno pertama dalam langkah demi langkah mengendalikan Pertamina.

Ia menarik Sudirman Said, karena ia tahu jaringan Sudirman Said bisa dimanfaatkan dalam memperkuat citra ISC sebagai penggebuk Petral dan mengelabui publik bahwa ISC menjadi bagian dari upaya restrukturisasi perusahaan Pertamina, padahal ISC sesungguhnya merupakan transformasi Petral yang diubah menjadi mesin uang bagi keluarga Soemarno yang kemudian menjadi realitas setelah SBY selesai masa jabatan 2014.

Gerakan Ari Soemarno dalam mengubah Petral kedalam pengaruh kekuasaan Ari dimasa SBY mengalami kegagalan total, karena SBY dan isterinya Ani Yudhoyono menolak pembubaran Petral.

Ari Soemarno bahkan disingkirkan sendiri oleh SBY dengan memajukan Karen Agus Setiawan, dimana Karen secara perlahan melucuti kekuatan politik Ari Soemarno ditubuh Pertamina. Untuk sementara Ari Soemarno disingkirkan, dan Sudirman Said diparkir di Pindad.

Beruntung bagi Ari dan Dirman angin berhembus kuat ke dalam pembaharuan politik, dimana tiba-tiba muncul politisi yang tidak dikenal dari Solo menggebrak Jakarta, dari berhasil merebut kursi Gubernur DKI Jakarta, sampai secara kilat menjadi calon terdepan .

Sejak awal perhitungan keluarga Soemarno melihat bahwa selama 10 tahun rakyat kecewa dengan SBY karena isu korupsi besar besaran dan banyaknya kader Partai Demokrat yang diseret ke penjara.

Sementara Megawati sudah menanamkan investasi politiknya sebagai “Partai Oposisi” sudah jamak bahwa rakyat kembali mulai melihat perkembangan di PDIP sebagai antitesis Partai Demokrat, sementara di tubuh PDIP sudah mulai muncul bintang baru bernama Jokowi.

Di sinilah Ari Soemarno melihat peluang untuk kembali memainkan politik di Pertamina, tapi sasarannya sudah amat jelas yaitu memperkuat ISC dimana jalur pengendali perdagangan minyak di tangannya sehingga ia bisa mengatur siapapun yang jadi Presiden, rencana ini ia atur sedemikian lama dan jadi bagian dari langkah langkah politik Rini Soemarno adiknya.

Rini Soemarno yang pernah dulu dekat dengan Megawati, kembali merapat ke Megawati, menjelang pencalonan Jokowi istilahnya tidak ada satu hari-pun Rini Soemarno tidak mendampingi Megawati, ia selalu berada di dekat Megawati, kata kata manis Rini Soemarno kepada Megawati menjadi semaian benih benih pengkhianatan di kemudian hari, ia mengincar jabatan Menteri BUMN, dengan misi terpenting menguasai Pertamina. Dan Ari Soemarno bermain di dalam Pertamina untuk mengelola kebutuhan logistik para petarung Pemilu, dengan ini dia bisa mendikte siapapun baik Prabowo atau Jokowi untuk ikut dalam suara gendang mereka.

Sejarah mencatat dalam pertarungan Pilpres yang amat ketat dan cenderung keras, Jokowi memenangkan pertarungannya. Di tengah rakyat yang bersorak sorai, Ari Soemarno bekerja dengan senyap dengan langkah taktis menempatkan Sudirman Said ke dalam ESDM untuk mengatur Pertamina.

Jokowi sebenarnya punya calon kuat untuk Kementerian ESDM, namun dengan permainan Sudirman Said, untuk menghajar calon Jokowi, maka dipermainkanlah kekuatan KPK oleh oknum KPK, dimana Abraham Samad yang saat itu menjadi Ketua KPK, untuk menstabillo merah nama calon dari Jokowi, sehingga Sudirman Said masuk menjadi Menteri ESDM.

Dalam kasus ini sebenarnya KPK dibawah Abraham Samad juga sudah memainkan peran politisnya untuk membantu Sudirman Said, kelak jaringan Sudirman Said memang menguasai KPK dan kerap dipakai Sudirman Said dalam menjalankan operasi operasi politiknya, terbukti dalam Pilkada DKI para eks komisioner KPK berdiri dibelakang Sudirman Said dan menjadi lawan bagi Jokowi, ini juga investasi politik Ari Soemarno bila Jokowi berhasil digagalkan di tahun 2019, Ari masih pegang kendali kelompok Dirman.

Masuknya Sudirman Said di Kementerian ESDM, menjadi pertemuan kepentingan kepentingan besar dalam memainkan proyek proyek energy. Termasuk di dalamnya Pertamina. Rini Soemarno juga mengatur langkah agar jangan sampai ia terlihat menguasai Pertamina, maka Rini membiarkan “pintu lain” masuk dengan membawa nama Dwi Soetjipto atau kerap dipanggil dengan inisial namanya DS.

Masuknya DS menjadi Dirut Pertamina, diimbangi oleh Rini Soemarno dengan menempatkan Ahmad Bambang atau AB. Rini sengaja menjadikan Ahmad Bambang sebagai rencana panjang menguasai Pertamina. Sementara Ari Soemarno terus memperkuat ISC seraya memerintahkan Sudirman Said menghancurkan Petral.

Penghancuran Petral sangat penting agar posisi ISC sebagai makelar minyak Pertamina bisa ia kuasai. Perhitungannya bila lima tahun ISC berhasil mengumpulkan duit, maka Rini Soemarno tak akan lagi kesulitan menggalang dana, karena Ari Soemarno sudah menjadi supplier logistik kepada kandidat kandidat capres 2019 yang bisa diandalkan, tidak seperti pada tahun 2014 dimana Rini masih mengumpulkan banyak pengusaha untuk menggalang dukungan pada Jokowi dan Prabowo, perlu diketahui pada tahun 2014 Rini Soemarno berdiri di dua kaki, ia mendukung Jokowi tapi juga menyalurkan dana ke Prabowo, catatan politik dua kaki Rini ini sempat meledak di awal terpilihnya Jokowi dan banyak dimuat di ruang ruang publik.

Pemecatan Dwi Soetjipto dan Elia Massa Manik

Salah satu karakter khas Rini Soemarno dalam meletakkan manajemen kepentingan di Pertamina yaitu melakukan “penempatan kamuflase” untuk menutupi permainan sesungguhnya dengan menempatkan orang-orang yang bukan bagian dari kelompoknya, namun mengimbangi orang yang sudah “dikader” untuk dijadikan subordinat kepentingan Rini di Pertamina. Sekaligus menjadi bagian dari jaring-jaring kakaknya Ari Soemarno.

Presiden Jokowi sendiri kerap tidak sadar atas permainan Rini Soemarno, dan ini terjadi pada kasus Dwi Soetjipto. DS adalah pilihan Presiden Jokowi, awalnya Rini bisa menyetir DS, dan membiarkan DS merapat juga ke Ari Soemarno, ada semacam komitmen diam-diam DS memberikan sedikit ruang pada Ari Soemarno untuk tetap bermain, agar posisi DS aman.

Namun DS mulai bermain disini, ia membiarkan Sudirman Said perang dengan Petral namun juga pelan-pelan menggebuk ‘orang-orang Ari Soemarno’ di tubuh ISC. Dalam permainan ini, DS berharap kendali perdagangan Pertamina tidak dilakukan lagi oleh para makelar-makelar minyak seperti Riza Chalid dan Ari Soemarno, dua orang makelar minyak paling kakap di negeri ini. DS mulai membangun Pertamina seperti BUMN yang sehat, transparan dan akuntabel. Namun ia juga harus pintar pintar dalam semua intrik di Pertamina. DS dengan cerdas membiarkan Sudirman Said dengan koneksi koneksi KPK-nya yang mendapatkan rekaman soal Novanto dan Riza Chalid, tapi disisi lain DS juga mulai mencari data permainan Ari Soemarno.

Namun aksi DS ini dibaca oleh Ari Soemarno lewat informan di dalam manajemen Pertamina, bahwa DS mulai menyoroti soal perdagangan gelap Ari Soemarno, dari sinilah kemudian Ari Soemarno meminta adiknya Rini Soemarno untuk menghadang aksi DS, lalu Rini memasang posisi Wakil Direktur Utama, Ahmad Bambang. Posisi Ahmad Bambang atau lebih dikenal AB ini menjadi heboh di kalangan internal Pertamina, karena dibaca sebagai upaya merontokkan DS dengan politik “Matahari Kembar”.

Ada catatan Ari Soemarno dan Sudirman Said, soal minyak Libya yang dibangunnya sejak 2006, dan pernah menjadi penyebab ditendangnya Ari dan Dirman keluar Pertamina, karena melakukan proses impor minyak Libya tanpa tender, dari sinilah kemudian permainan diulang kembali.

Dwi Soetjipto rupanya sudah membaca bahwa ia sedang mendapat serangan dari kelompok Ari Soemarno lewat penempatan AB, tapi entah kenapa DS seakan punya naluri untuk menyelamatkan Pertamina dari kangkangan mafia Ari Soemarno, ia ingin mengembalikan Pertamina sebagai khittah-nya sebagai Perusahaan Minyak Nasional yang bertanggung jawab terhadap jutaan rakyat Indonesia, karena jantung dari Pertamina saat ini adalah “politik impor minyak” karena adanya system perdagangan rente didalamnya, dinilai bisa menyengsarakan banyak orang. Namun Ari Soemarno, juga menolak kalah terhadap DS, ia terus melaju dengan mempermainkan impor minyak.

Puncak dari perseteruan Dwi Soetjipto dengan kelompok Ari Soemarno adalah pada saat RUPS 20 Oktober 2016, DS menolak ajuan impor minyak 2 juta barel minyak jenis Mesla-Sarir dan mencoret Glenncore sebagai pemasok ke Pertamina. Inilah yang membuat Ari Soemarno marah besar, dan meminta Rini Soemarno untuk mencopot DS apapun yang terjadi. Disinilah kemudian Rini menempatkan Ahmad Bambang sebagai Wadirut, sehingga nanti tercipta konflik dengan DS, sekaligus mengamankan proyek-proyek Ari Soemarno.

Dwi Soetjipto, sukses membawa Pertamina mencetak laba sekitar US$ 2,5 Milyar atau Rp. 40 Trilyun, mengalahkan Petronas yang hanya mencetak keuntungan US$ 1,6 Milyar. Tapi tampaknya Ari Soemarno tak peduli dengan keuntungan Pertamina, lewat jaringannya mereka terus mencari celah mencopot Dwi Soetjipto. Akhirnya Dwi Soetjipto tergeser dengan alasan yang sudah bisa diduga sebelumnya, “adanya perseteruan dengan Ahmad Bambang”. Sekali lagi Ari dan Rini memenangkan pertarungannya di Pertamina. Sementara Ahmad Bambang ditarik ke ring satu Rini, sementara DS ditenggelamkan dan tidak dilindungi nama DS seperti hilang bersama angin.

Digesernya Dwi Soetjipto memberikan nafas lega bagi Ari dan Rini, mereka kemudian merancang agar Ahmad Bambang untuk diajukan sebagai Dirut Pertamina. Disini kemudian Jokowi meminta tiga menteri untuk ikut “cawe-cawe” dalam tubuh Pertamina, agar ia tidak sepenuhnya mendapatkan pertimbangan hanya dari Rini Soemarno.

Saat itu Jokowi mendapatkan lima masukan, empat nama memuat Ahmad Bambang, dan dikabarkan Jokowi geleng-geleng kepala karena insting politiknya tidak ingin Pertamina jatuh ke tangan keluarga Soemarno sepenuhnya. Presiden ingin Pertamina dikelola secara professional. Atas rekomendasi tiga menteri yaitu : Mensesneg, Seskab dan Menko Maritim muncul nama Elia Massa Manik, saat itu Presiden membaca narasi rekomendasi reputasi Elia Massa Manik.

Di kalangan para CEO BUMN, nama Elia Massa Manik tidak asing lagi. Ia dikenal sebagai “dokter restrukturisasi” kerjaannya adalah menghidupkan perusahaan kolaps menjadi perusahaan yang menguntungkan. Talenta utamanya adalah “membereskan manajemen perusahaan”. Ia pernah membenahi PT Elnusa, dari posisi diambang kebangkrutan menjadi hidup kembali, dalam 2,5 tahun ia bisa membenahi Elnusa sehingga berjalan normal.

Kemudian ia dipindahkan ke PTPN III, saat itu induk perusahaan BUMN Perkebunan dalam kondisi amat parah. Gaji pegawai tak terbayar, hutang sampai Rp. 33,24 Triliun pada semester pertama 2016. Konsolidasi berbagai perusahaan perusahaan perkebunan inilah yang kemudian membuat bengkaknya posisi hutang perusaaan induk.

Dengan lihai Elia melakukan langkah langkah efisiensi, mengurangi posisi direktur sehingga mengurangi gerbong manajemen yang tidak efektif, mengurangi biaya produksi dan habis habisan menaikkan tingkat produktivitas perkebunan. Efisiensi ini ternyata berhasil, dan catatan inilah yang membuat Presiden Jokowi mengambil keputusan untuk memilih Elia Massa Manik sebagai Dirut Pertamina sekaligus membuat kecewa Ari dan Rini.

Masuknya Elia Massa Manik ke dalam manajemen Pertamina, ditandai dengan satu hal. Wawasannya yang visioner tentang arah Pertamina dalam 20 tahun ke depan. Ia melihat cadangan minyak Indonesia hanya cukup 10 sampai 15 tahun, ini artinya Pertamina harus mencari cadangan minyak baru di seluruh penjuru Nusantara, eksplorasi menjadi politik utama kebijakan besar di Pertamina, agar mengurangi impor minyak. Bila eksplorasi tidak berhasil dilakukan, maka sudah menjadi takdir sejarah Indonesia akan bergantung banyak dengan Minyak Impor, dan bila ini terjadi gagal cita-cita Indonesia untuk berdaulat di bidang energy.

Elia Massa Manik membuat road map strategy kedaulatan energy, namun dibalik langkah Elia membuat Road Map itu tersimpan langkah penting yaitu meniadakan peran calo calo minyak impor yang berkumpul di ISC (Integrated Supply Chain) bentukan Ari Soemarno. Elia ingin mengembalikan kembali Pertamina sebagai satu satunya pengimpor minyak bukan lagi lewat para makelar makelar minyak. Disini Elia membuat skema terbuka dan bisa diakses masyarakat luas soal impor minyak, karena bila impor minyak dilakukan tertutup dan dimainkan lewat banyak tangan, maka keamanan energy rakyat banyak terancam.

Penghapusan makelar makelar impor minyak menjadi agenda utama Elia Massa Manik, disitu Elia juga tidak memberikan ruang bagi Ari Soemarno. Seluruh proyek proyek Ari Soemarno yang cenderung tidak benar dibereskan. Penertiban proyek proyek Ari Soemarno dilakukan dengan tegas seraya memperkuat Pertamina sebagai penghasil minyak baik konvensional maupun energy terbarukan.

Di Blok Mahakam, Pertamina mampu mengelola pengeboran langsung, ini artinya di sektor hulu diperkuat, dalam kasus Blok Mahakam Pertamina menunjukkan bukti bahwa bisa menjalankan pengerjaan pengeboran minyak.

Lalu ekspansi ekspansi ke ladang-ladang minyak baru, ia juga menjaga aset-aset Pertamina sehingga secara aset, Pertamina memiliki aset di 12 negara : Malaysia, Algeria, Irak, Perancis, Italia, Kanada, Gabon, Tanzania, Kanada, Myanmar, Namibia dan Kolombia.

Prestasi Elia Massa Manik dalam mempertahankan laba nyaris Rp. 70 Trilyun ditengah badai harga minyak, menunjukkan kemampuan efisiensi manajemen di tubuh Pertamina. Seluruh kekuatan Pertamina diarahkan dalam program langkah demi langkah Road Map Kedaulatan Energy. Fokus Elia Massa adalah soal energy terbarukan, secara cepat di masa kepemimpinannya masuk geothermal, biodiesel, biomass, mini hydro dan solar PV.

Namun jelas Ari dan Rini terganggu dengan keberhasilan Elia Massa ini, ia tetap mencalonkan Ahmad Bambang sebagai calon Dirut Pertamina, beberapa kasus yang sebenarnya tidak besar seperti tumpahan minyak di Balikpapan yang merupakan kejadian Force Majeur, dijadikan alasan pencopotan Elia Massa padahal operasi pemberesan dilakukan dengan cepat, begitu juga dengan kasus kelangkaan premium yang sebenarnya tidak lagi disubsidi lagi oleh pemerintah. Banyak pihak menganggap pencopotan Elia Massa Manik sama nasibnya dengan Dwi Soetjipto, yaitu adanya kepentingan keluarga Soemarno di tubuh Pertamina.

Kelihaian Ari dan Rini Dalam Manajemen Kepentingan di Pertamina

Ari dan Rini sangat pintar dalam mengelabui media, bayangkan dalam pencopotan tak wajar dari Dwi Soetjipto dan Elia Massa Manik, tidak ada media satupun yang mengendus ini adalah permainan dari Ari dan Rini. Bagaimana sensitifitas para analis politik dalam membaca politik logistik jelang Pilpres 2018, juga pertemuan antara Ari Soemarno dan Prabowo di Jepang.

Padahal di tingkat elite sudah beredar kabar, pencopotan ini tidak diketahui Presiden, semua terjebak dalam keputusan fait accomply Rini Soemarno. Presiden berulang kali dikibulin Rini, sementara Luhut B Panjaitan juga sudah mati langkah, padahal Luhut adalah salah satu Menteri yang meneken persetujuan Elia Massa Manik maju.

Tujuan politik Ari dan Rini memang menempatkan Ahmad Bambang untuk memperkuat ISC dan memberikan lagi konsesi konsesi pada perusahaan rekanan Ari Soemarno seperti Glenncore untuk berkibar sebagai pengimpor utama minyak seraya memperkuat jaringan di dalam tubuh ISC. Walaupun di isukan bahwa Sofyan Basir Dirut PLN yang akan maju ke Pertamina, diperkirakan justru Ahmad Bambang-lah yang pegang kendali Pertamina.

Ini juga berkaitan dengan Holding Migas, salah satu tujuan Holding Migas adalah menutupi kerugian besar PGN (Perusahaan Gas Negara) ini yang jarang dibaca publik. Dirut ISC Toto Nugroho, dipastikan akan diganti juga oleh “orangnya Ahmad Bambang”. Ari dan Rini tidak bisa lagi bermain-main dengan “politik kamuflase jabatan” karena ia sedang dikejar waktu deadline pilpres untuk memegang kendali seluruh capres.

Kontrol paling penting dalam dunia politik adalah “siapa yang bisa mengontrol minyak bumi” dialah pemenang, Presiden Jokowi yang berniat kerja keras untuk membangun Republik ini, hanya terdiam berkali-kali Presiden yang berhati tulus itu menunjuk seseorang yang mampu merestrukturisasi Pertamina, tetapi selalu dikerjain Ari dan Rini.

Inilah tragedi atas Pertamina, seluruh kekuatan politik seharusnya bertanggung jawab terhadap apa yang terjadi di Pertamina, jangan sampai Pertamina seperti perusahaan keluarga, padahal bertanggung jawab terhadap jutaan rakyat. Para politisi yang mempunyai semangat nasionalisme dan cinta tanah air mempertanyakan “ada apa sebenarnya di dalam tubuh Pertamina?”

Juga para analis-analis politik telitilah bagaimana Politik Logistik Pertamina dimainkan sebagai instrumen instrumen pembiayaan politik. Bila ini terjadi betapa bahayanya bangsa ini ketika melepaskan Pertamina di bawah bayang bayang jaringan mafia minyak impor Ari Soemarno…

Sumber:kompasiana