Beranda OPINI Dakwah Tipu-Tipu ala Bahar Smith

Dakwah Tipu-Tipu ala Bahar Smith

BERBAGI

Pada acara Reuni 212 di Monas, Bahar Smith diberikan kesempatan untuk menyampaikan orasi. Dalam penyampaiannya yang selalu berapi-api itu, Bahar Smith membahas soal pelaporan dirinya ke kepolisian. Bahar Smith menjelaskan alasan dirinya menyebut Joko Widodo sebagai Presiden banci dan pengkhianat bangsa. Sayang, Bahar Smith tak menjelaskan mengapa ia curiga Joko Widodo sedang haid.

Bahar Smith mengatakan, latar belakang ia mengatakan Joko Widodo banci adalah karena pada Aksi 411, Joko Widodo tidak menemui massa aksi. Malahan, kata dia, massa aksi diberondong gas air mata. Sedangkan alasan Bahar Smith menyebut Joko Widodo pengkhianat bangsa adalah karena dirinya tidak rela melihat masih adanya rakyat yang belum sejahtera.

Bahar Smith menegaskan, jikalau pernyataannya adalah sebuah kesalahan bagi pendukung Joko Widodo, dengan bersumpah atas nama Allah, Bahar Smith tidak akan minta maaf. Bahar Smith lebih memilih busuk di dalam penjara daripada minta maaf.

Ada yang lucu dari orasi Bahar Smith itu. Ia sempat mengatakan agar tidak melihat rekaman video yang tidak utuh. Agar dapat memahami ceramahnya, kata Bahar Smith, seharusnya ditonton dari awal. Ya, dikatakan lucu karena saat Ahok digempu pun, yang kemudian melahirkan beberapa aksi termasuk aksi 212 yang kemudian direunikan, toh tetap saja yang dilihat adalah penggalan video buah karya Buni Yani.

Argumen Bahar Smith mengenai landasan ia mengatakan Joko Widodo sebagai Presiden banci dan pengkhianat bangsa pun sungguh naif. Bahar Smith hanya membahas aksi 411 namun tak membahas aksi 212. Padahal pada Aksi 212, Presiden Joko Widodo menemui massa aksi. Bahkan, sepanggung dengan Habib Rizieq Shihab. Soal gas air mata, tentu itu dinamika dan ekses dari aksi yang sudah melewati batas waktu. Dan, jangan lupa, keadilan versi mereka sudah diberikan. Ahok dipidana.

Kemudian, menyebut Joko Widodo sebagai pengkhianat bangsa, ini yang keterlaluan. Alasan karena tidak rela melihat rakyat yang belum sejahtera pun sungguh hanya gimmick. Bila memang serius tak rela, mengapa pula Presiden Joko Widodo yang sedang berusaha menyejahterakan rakyat dihujat? Harusnya didorong agar bekerja lebih keras memakmurkan rakyat. Bukan dicaci-maki.

Pengkhianat bangsa pun sangat tak cocok didefinisikan karena rakyat belum sejahtera. Pertama, ukuran apa yang dipakai Bahar Smith sehingga bisa mengatakan rakyat belum sejahtera? Bukankah kelompoknya mengklaim bahwa Aksi Reuni 212 adalah urunan rakyat? Bukankah capres yang didukungnya kerap membuat pemberitaan mendapat sumbangan dari rakyat? Bukankah Sandiaga Uno menyebut hotel-hotel kebagian untung dari aksi Reuni 212? Apa itu tidak sejahtera?

Tuduhan Joko Widodo sebagai pengkhianat bangsa juga merupakan tuduhan yang serius. Karena dengan tuduhan itu, Presiden dapat diberhentikan. Pasal 7A UUD 1945 memaktubkan:

“Presiden dan/atau Wakil Presiden dapat diberhentikan dalam masa jabatannya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat atas usul Dewan Perwakilan Rakyat, baik apabila terbukti telah melakukan pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi memenuhi syarat sebagai Presiden dan/atau Wakil Presiden.”

Bila memang Joko Widodo adalah pengkhianat bangsa, mengapa Bahar Smith tidak meminta pemakzulan sekalian? Desak politikus partai di barisannya yang menjadi anggota dewan untuk melakukanimpeachment. Menuding Presiden sebagai pengkhianat bangsa dengan dasar rakyat belum sejahtera-yang datanya belum tentu sahih-adalah propaganda dan agitasi Bahar Smith untuk mendulang dukungan calon presiden yang didukungnya.

Pernyataannya yang menuding Joko Widodo banci dan pengkhianat bangsa serta haid sebenarnya tidak diucapkan dalam mimbar ceramah. Bahar Smith paling tidak saat itu tidak sedang berdakwah. Ia sedang menjadi juru kampanye. Ia sedang mempromosikan calon presidennya. Dengan kata lain, bila menyebut itu sebagai ceramah apalagi dakwah, Bahar Smith sedang melakukan tipu-tipu.

Mengapa demikian? Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan saat berceramah di Mejid At-Taqwa, Citra Raya, Tangerang, 2 Desember 2018, mengatakan, figur yang memiliki lisensi untuk berdakwah hanyalah Nabi Muhammad SAW. Sedangkan orang selain Nabi Muhammad, kata Habib Jindan, izin berdakwahnya menumpang pada izin Nabi Muhammad. Oleh karena itulah, metode dakwah dan materi yang disampaikan harus sesuai dengan Nabi Muhammad.

Ini ayat Alquran yang dibacakan Habib Jindan: yang artinya “Hai Nabi sesungguhnya kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada Agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi” (QS:Al-Ahzab ayat: 45-46).

Dakwah Nabi, kata Habib Jindan, adalah mengajak kepada Allah. Bila dakwah mengajak kepada hal lain, politik misalnya, itu bukan dakwah itu kampanye. Dan, itu penipuan mengatasnamakan dakwah. Selain itu, karena izin berdakwah menumpang dari Rasul, maka cara berdakwah harus baik, harus santun, sesuai tuntunan Rasul, tidak mencaci-maki, menghujat, mengumbar aib, dan mencari-cari kesalahan.

Habib Jindan menceritakan kisah saat Nabi Muhammad menangis menyaksikan jenazah seorang Yahudi. Salah seorang sahabat kemudian memberitahu Nabi bahwa itu jenazah Yahudi dan tak elok ditangisi. Nabi tentu dapat membedakan mana iring-iringan jenazah Yahudi dan mana yang Muslim. Nabi mengatakan, ia menangisi jenazah Yahudi itu karena sedih belum dapat membantu orang Yahudi itu ke jalan Allah.

Kisah itu diceritakan Habib Jindan untuk menggambarkan kemuliaan ahlak Nabi. Betul memang, katakan yang hak (benar) walau pun pahit. Tapi apakah menghujat, menghina, mencaci-maki, merendahkan martabat sesama Muslim, seorang pemimpin itu benar? Bukankah itu bathil? Dan, bila pun diklaim benar, apa parameternya? Hanya menurut merekakah? Bila Nabi bilang benar ya pasti benar. Tapi belum tentu orang lain.

Bila Bahar Smith mengklaim dirinya berdakwah, maka siapa panutan ia dalam berdakwah? Bila referensinya Nabi Muhammad, tentu dakwahnya tak akan diisi hujatan dan makian. Sebab Rasul, jangankan ke sesama muslim, ke orang musyrik sekali pun, Rasul enggan mengeluarkan kata-kata kasar.

Habib Jindan menceritakan kisah sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim Rahimahullah. Beliau yang menulis kitab Shahih ini meriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu yang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, “Ya Rasulullah, laknatilah orang-orang musyrik itu.”

Mendengar kalimat yang diucapkan oleh salah satu sahabat mulianya itu di depan kaum kafir, musyrik, dan penentang dakwah lainnya, Nabi tersenyum lembut. “Sungguh, aku diutus bukan untuk menjadi tukang laknat. Aku hanya diutus sebagai pembawa rahmat, kasih sayang”.

Jadi, bila dakwahnya penuh kemarahan, siapa sebenarnya yang dijadikan panutan? Dan, sudahlah jangan bilang ceramah apalagi berdakwah. Bilang saja sedang kampanye.

Ditulis Oleh Ahmad Romdoni

Sumber : Qureta.com