BERBAGI

JAKARTA, kabarpolisi.com – Sebagai salah satu Perusahaan Daerah Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta, PD Pasar Jaya (PDPJ) dihadapkan pada tantangan yang tidak mudah. Berubahnya tren selera masyarakat untuk berbelanja juga menjadi fokus permasalahan yang harus diantisipasi PDPJ. Menjamurnya pusat perbelanjaan swalayan jadi bagian langsung perubahan selera berbelanja masyarakat dalam memenuhi kebutuhan. PDPJ suka tidak suka harus mengikuti perubahan tersebut. Zaman dimana PDPJ menjadi ikon pusat perbelanjaan masyarakat sepertinya sudah berubah. Konsep pasar tradisional dengan tata-ruang yang sederhana tidak bisa lagi menjadi magnet untuk mengundang pengunjung datang. Malah konsep pasar tradisional tersebut sudah harus dirombak menjadi pasar modern dengan tata-ruang yang repsentatif juga sudah harus melekat dengan PDPJ. Karena bagaimanapun, memanjakan pembeli adalah Kredo umum seantero pasar.

Ya, PDPJ harus menempatkan pembeli adalah raja dalam pengertian seutuhnya.
Demikian beberapa poin yang disampaikan Asisten Manager PDPJ, Rachmat Hidayatullah di ruangan kerjanya kepada kabarpolisi.com.

Rachmat Hidayatullah yang akrab dipanggil Radit membeberkan banyak hal terkait tanggung-jawabnya di PDPJ. Meski sangat sibuk dengan berkas-berkas di meja, sekali-kali menjawab telpon masuk dan pegawai yang datang silih-berganti, tapi tidak mengurangi semangat Radit berdiskusi tentang PDPJ menjawab tantangan ke depan beberapa saat lalu.

Berbekal Master di bidang Ekonomi, Radit mulai bergabung dengan PDPJ sejak tahun 2012 silam. Sebuah tekad tertanam di hati Radit untuk memajukan PDPJ agar mampu bersaing di era percaturan pasar modern.

Sebagai Asisten Manager yang mengemban amanah untuk memajukan perusahaan, Radit sepertinya sangat terobsesi melihat PDPJ mampu bersaing dengan berbagai pusat perbelanjaan modern. Sehingga, nyaris banyak waktunya dia habiskan untuk bergelut dengan berbagai permasalahan PDPJ. Radit sendiri sebagai Asisten Manager memikul tanggung-jawab atas sembilan pasar terkait bidang usaha, koperasi dan perawatan gedung. Sebuah tanggung-jawab yang tidak kecil memang. Sembilan pasar yang harus dapat perhatian penuhnya adalah : Pasar Lenteng Agung, Pasar Minggu, Tebet Barat, Tebet Timur, Karet Belakang, Karet Pedurenan, Manggis, Menteng Pulo dan Bukit Duri.

Menyangkut pengelolaan keuangan, berbagai tudingan yang tidak berdasar terkadang harus diterima Radit sebagai konsekwensi dalam menjalankan tugas. Terkadang ada yang menyudutkan Radit soal pungutan-pungutan yang tidak jelas. Menanggapi hal ini, Radit dengan tegas membantah. Semua pungutan di lingkup PDPJ yang berada dibawah kewenangannya punya dasar yang jelas dan bisa dipertanggung-jawabkan di mata hukum. Memang, Radit mengakui bahwa, mungkin masih ada pungutan-pungutan yang belum termonitor yang dilakukan pihak-pihak tertentu. Hal ini jadi prioritas PDPJ untuk dibenahi. Berikutnya,
PDPJ juga harus merubah kesan sembrawut jadi nyaman dan menyenangkan. Juga tidak kalah penting adalah pengawasan terkait kerjasama dengan pihak ketiga perlu ditingkatkan. Karena bisa saja, ada celah-celah yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi dengan mengatas-namakan PDPJ.

Ada dua kelompok pedagang di PDPJ, ada pedagang Existing dan ada pedagang binaan yang jadi konsern Asisten Manager. Perpanjangan sewa toko, permohonan sertifikat baru dan sewa lapak bagi pedagang binaan, semua melalui transaksi non tunai. Semua transaksi, sesuai kebijakan direksi sudah dilakukan non tunai. Malah, pungutan listrik dan kebersihan pada pedagang binaan, ke depan juga dilakukan non tunai. Sistim tab ( baca : tempel kartu pada mesin, red) akan segera diberlakukan” jelas Radit.

Sudah menjadi bagian dari komitmen PDPJ memajukan pedagang. Agar pedagang mendapat suntikan modal dari pihak ketiga, seperti bank dan lembaga keuangan lainnya, PDPJ mengeluarkan Surat Keterangan Usaha (SKU) bagi pedagang existing. Tapi, PDPJ tidak bertanggung-jawab, jika pihak ketiga memberikan bantuan pada pedagang binaan.

(Doni Harima)