BERBAGI

JAKARTA, kabarpolisi.com – Kapolda Sumsel Irjen Pol Firli Bahuri terpilih sebagai Ketua KPK setelah memperoleh suara terbanyak dalam voting yang digelar Komisi III DPR.

Berdasarkan laporan LHKPN-nya, Ketua KPK terpilih ini ternyata memiliki harta yang berlimpah. Diketahui jumlah keseluruhan harta kekayaan Irjen Firli Bahuri lebih dari Rp 18 miliar. Hal ini dinilai fantastis, mengingat Firli baru berpangkat Jenderal Bintang Dua.

Ternyata, harta kekayaan Irjen Firli Bahuri dan istrinya salah satu sumbernya didapat dari usaha yang dirintis.
Tak main-main, dalam satu bulan usaha istri Irjen Firli bisa mencapai Rp 270 jutaan perbulan.

Hal tersebut diawali dari panelis yang menyinggung adanya informasi masyarakat soal Firli yang memiliki beberapa rumah di Bekasi dengan nilai fantastis.
Termasuk penghasilan Firli yang dinilai sangat besar jika dibandingkan statusnya yang hanya seorang pejabat Polri bintang dua.

“Kami dapat informasi dari masyarakat, bapak punya beberapa rumah di Bekasi. Klarifikasi saja, karena nilai rumah bapak dan ibu fantastis sampai sekian miliar.

Saya juga menanyakan penghasilan, kita sama-sama tahu sebagai ASN. Biar masyarakat tahu, bapak juga katanya punya bisnis salon,” cecar panelis.
Merespon pertanyaan itu, Firli menjelaskan memang istrinya memiliki sebuah usaha yang bergerak di bidang jasa dan kesehatan.

Firli malah menawarkan para panelis maupun awak media jika ada waktu luang agar mencoba refleksi, usaha sang istri.
“Boleh lah kalau mau pijat refleksi di tempat istri saya. Tiap bulannya bisa 3.000 kepala. Sekali refleksi Rp 90 ribu jadi bisa dihitung satu tahun berapa,”
imbuhnya.

Mantan Kapolda Nusa Tenggara Barat (NTB) ini menambahkan istrinya rajin melaporkan harta kekayaan termasuk membayar pajak.

“SPPT 2018 saya kirim, pajak perusahaan istri juga bayar. Terakhir PBB atas nama saya, juga dibayar. Istri saya itu disiplin mengurus yang begini. Dia mencatat dan menulis dengan rinci,” tegasnya.

Dari Keluarga Miskin

Irjen Firli merupakan pria kelahiran Desa Lontar, Kecamatan Muarajaya Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU).
Desa Lontar merupakan desa di kawasan seberang Sungai Ogan. Desa ini tidak memiliki akses keluar melalui jalur darat.

Untuk menuju jalan raya (jalan aspal ) harus berjalan kaki melewati pematang sawah dan tiga kali melewati jembatan (jembatan kayu 2 buah dan 1 buah jembatan gantung darurat). Di sinilah 55 tahun silam , Firli dilahirkan.

Siapa sangka bungsu dari enam bersaudara anak pasangan Bahuri (ayah) dan Tamah (ibu) kini menjadi jenderal bintang dua.

Untuk mengenang kembali masa-masa kecilnya, lulusan AKPOL 1990 ini memilih berjalan kaki dari jalan raya Desa Tangsilontar Kecamatan Pengandonan menuju rumahnya di Desa Lontar Kecamatan Muarajaya .

Sepanjang perjalanan, ayah dua anak ini dengan semangat menceritakan perjuangannya waktu di bangku Sekolah Dasar (SD) yang sudah menjadi yatim sejak ayah meninggal tahun 1974.
Ibunda Firli membesarkan dan mendidik Firli bersama lima saudaranya bernama Rusibah, Sismiana, Iskandar, Makmulhad, Busri dengan segala keterbatasan.

Kehidupan Firli bersaudara penuh dengan tantangan dan ujian.

Kerasnya kehidupan membuat Firli terlatih dan tanggap serta tidak kenal kata menyerah. Waktu SD Firli sudah bisa membeli sepeda hasil keringat sendiri dengan menyadap karet setelah pulang sekolah. Uang hasil penjualan karet ditabung selama 3 bulan untuk membeli sepeda.

Setelah lulus SD di Desa Lontar, tantangan untuk masuk SMP juga lumayan berat karena SMP hanya ada di Kecamatan Pengandonan kata Firli.
Tidak ada pilihan lain, Firli harus berjalan kaki menempuh sejauh 16 KM (PP) untuk menuntut ilmu.

“Saat bejalan kaki saya selalu menundukan kepala menatap tanah yang saya lewati, tahu-tahu sudah nyampai rumah,” kata Irjen Pol Firli seraya menambahkan kalau dia mengangkat kepala maka akan melihat berapa jauh lagi jarak yang harus ditempuh.

Sepulang sekolah shalat dan makan, setelah itu Firli harus pergi lagi ke ladang berjalan kaki sejauh 3 KM dengan medan mendaki dan menurun untuk membantu ibunya.

Setelah lulus SMP Firli hijrah ke Palembang melanjutkan pendidikan SMA.
Dengan modal semangat Firli memulai perjuangan hidup berat di Kota Palembang. Untuk menyambung hidup dan pendidikannya Firli harus kerja serabutan yang penting halal.

Sepulang sekolah Firli dagang spidol beli Rp 25 selusin di Pasar Cinde dan dijual kembali seharga Rp 50 selusin di Taman Ria Sriwijaya Palembang. Dalam semalam Firli bisa menjual 6 lusin spidol dan bisa membawa uang Rp 150 untung dari dagang spidol. Selain jualan spidol, Firli juga ikut berjualan kue hingga upahan mencuci mobil. Semua itu dilakoni untuk bertahan hidup dan meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Pesan moral yang ingin disampaikan Kapolda Sumsel Irjen Irjen Pol Drs Firli MSi kepada generasi mendatang jangan pernah menganggap tantangan itu sebagai penghalang.

Menurut Firli , berkat hidupnya sudah ditempa sejak kecil membuat jiwanya kuat kehidupannya bisa sesukses sekarang. Jangan minder atau bersedih terlahir dikeluarga yang kurang berkecukupun.

“Masa depan seseorang tidak ditentukan saat dia lahir tapi semangat berjuang semangat bekerja keras dan tentunya izin Allah SWT. “ imbuh Irjen Pol Drs Firli MSi.

Sumber:Tribunnews.com