City Tantangan Terbesar Pep Guardiola

Pep Guardiola pada laga melawan AS Monaco. (Foto:Andrew Couldridge/Reuters)

Tentu, Pep, tentu saja.
Semenjak keluar dari Barcelona B dan menjadi pelatih tim utama Barcelona, Pep Guardiola memperkenalkan dirinya kepada dunia sebagai salah satu manajer terbaik yang pernah ada. Kendatipun Anda, mungkin, memperdebatkan label itu, raihan trofi Guardiola sudah bisa berbicara dengan sendirinya.

Guardiola, semenjak ditemukan oleh Johan Cruyff pada sebuah sore di Mini Estadi —sebuah stadion kecil, tak jauh dari Camp Nou, yang biasa dipakai tim B atau junior Barcelona—, sudah terlihat berbeda sejak awal.

Cruyff-lah yang meminta kepada pelatih Guardiola saat itu, Carles Rexach, untuk memindahkannya menjadi gelandang tengah. Kelak, di kemudian hari, Guardiola menjadi bagian penting dari dream team Barcelona milik Cruyff.

Guardiola adalah gelandang genius. Ia adalah holding midfielder brilian. Bukan cuma karena bisa membaca permainan atau punya kemampuan melepas operan di atas rata-rata, tetapi juga karena kemampuannya memanipulasi lawan.

Memanipulasi?

Ya, dalam sebuah pengakuannya, Guardiola sering mengarahkan operan ke suatu area agar lawan terpancing dan meninggalkan ruang yang menganga.

Pernah, dalam satu laga, ia terus memberikan operan ke samping. Ketika ia menguasai bola, dan lawan menebak dia akan memberikan operan, sang lawan pun bergerak ke samping. Di sinilah rencana Guardiola bekerja.

Sedari awal, tujuannya memberikan operan ke samping adalah untuk membuat lawan lengah. Begitu lawan bergerak ke samping, ruang di tengah akan terbuka, dan ke sanalah ia berniat untuk memberikan operan kepada rekannya. Ruang yang ditinggalkan lawan itulah bisa dieksploitasi rekan-rekannya.

Perkara ruang ini jugalah yang dibawa Guardiola ketika menjadi pelatih. Pernah, pada suatu sesi latihan Bayern Muenchen, Guardiola menginstruksikan pemain-pemainnya untuk menguasai area tertentu, bermain-main operan pendek, hingga lawan terpancing ke area tersebut. Tujuannya, tentu saja, adalah mengincar ruang yang ditinggalkan oleh lawan tadi.

BACA JUGA  Jika Ferdy Sambo Dihukum Mati, Aib Polri Diprediksi Akan Dibuka Lebar Lebar

Soal mengeksploitasi ruang itu adalah satu dari banyak ciri dari permainan tim Guardiola. Ciri lainnya adalah bagaimana ia menginginkan pemain-pemainnya membangun build-up serangan dari belakang. Maka, tak heran jika ia selalu membutuhkan kiper ataupun bek tengah yang bisa mendistribusikan bola dengan baik.

Di Barcelona dan Bayern, filosofi permainannya berjalan dengan luar biasa —meskipun di Bayern bisa diperdebatkan karena, faktanya, tak seperti di Barca, Guardiola gagal meraih trofi Liga Champions. Di Manchester City? Nanti dulu.

Meski awalnya bisa membawa City melaju, pada pertengahan hingga mendekati akhir musim, laju The Citizens mulai tersendat-sendat. Yang teranyar, City tersingkir di babak 16 besar Liga Champions.

Ini adalah pertama kali timnya Guardiola gagal melangkah lebih jauh dari babak 16 besar Liga Champions.
Filosofi Guardiola diduga belum sepenuhnya bisa diterima oleh pemain-pemain City.

Selanjutnya, muncul rumor bahwa Guardiola ingin mencuci gudang dan mendatangkan pemain-pemain yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan taktiknya di bursa transfer musim panas tahun ini.
Apapun itu, Guardiola sendiri mengakui, City memang tantangan terbesarnya sejauh ini, berbeda dengan Barca ataupun Bayern.

“Ini adalah pertama kalinya dalam karier saya sebagai manajer di mana saya merasa, inilah saatnya melihat diri saya sebagai manajer,” ujar Guardiola seperti dilansir The Guardian.

“Ini adalah pertama kalinya buat saya. Sementara untuk kesempatan-kesempatan sebelumnya, saya dianggap beruntung karena bisa menangani tim yang memang sudah besar. Ini adalah pertama kalinya saya ingin membuat orang-orang berkata: ‘Wow, Pep bisa melakukannya lagi di sebuah tim, di Inggris, di Manchester City’,” kata Guardiola.

Guardiola masih mungkin mengakhiri musim ini dengan trofi. Sementara mengejar trofi Premier League tampak sulit, Guardiola dan City masih bisa mengincar trofi Piala FA. Namun, sebelum memikirkan trofi Piala FA, mereka punya tantangan terdekat: menghadapi Liverpool di Etihad pada Minggu (19/3/2017) malam WIB. (devara/kumparan.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.