Merasa Terancam, Wanita Ini Laporkan Ketua Umum Parpol ke Mabes Polri

Rifa Handayani (Foto jitunews.com)

Jakarta – Rifa Handayani melaporkan seorang ketua umum sebuah partai politik ke Mabes Polri.

Pelaporan ini didasari karena Rifa sering diteror dan diancam menggunakan sosial media oleh ketum parpol yang berinisial AH. Tak hanya itu, Rifa juga merasa dapat ancaman dari AH dan istrinya YA.

“Saya melaporkan pengaduan ini karena saya telah diteror dan diancam menggunakan sosmed yaitu path dan whatsaap. Dari perihal tersebut saya merasa jiwa saya terancam, terintimidasi dan merasa terhina dengan ancaman-ancaman dan fitnahan itu,” ujar Rifa di Jakarta, Rabu (15/12/2021).

“Perilaku tersebut diduga dilakukan oleh AH dan YA, maka dari itu saya meminta perlindungan dari pihak-pihak yang berwajib,” imbuhnya.

Rifa mengungkapkan bahwa dirinya sudah membuat laporan ke Bareskrim namun berkas-berkas masih kekurangan barang bukti.

“Jumat lalu saya telah membuat laporan ke Bareskrim, berkas saya tidak di tolak tapi dianggap kurang bukti dan harus ada yang dilengkapi seperti traslate dari bahasa english ke indonesia dan harus dilegalisir,” tuturnya.

Oleh karena itu, dia kembali mendatangi Bareskrim untuk melakukan pelaporan namun kembali dipersulit karena laporannya tidak ada izin dari menteri

“Saya kembali lagi hari senin tapi laporan itu dianggap secara tidak langsung ditolak. Jadi saya bingung waktu hari jumat dibilang kurang lengkap, saya datang lagi senin laporan saya dibilangnya harus ada laporan menteri,” kata dia.

“Jadi saya mau laporkan menteri tapi harus ada izin menteri jadi seperti dipersulit. Saya mau minta keadilan kemana lagi, sama mau minta kemana lagi,” sesalnya.

Oleh karena itu, Rifa berniat akan membuat laporan pengaduan langsung kepada Kapolri, Komnas HAM dan MKD DPR.

BACA JUGA  Kapolda Jateng Pastikan Satgas Puser Bumi Pantau Penyaluran BBM Bersubsidi

“Saya kepikiran membuat laporan pengaduan ke Kapolri, Komnas HAM dan MKD DPR,” tuturnya.

Awalnya Rifa kenal AH pada tahun 2012. Rifa Handayani mengakui saat itu tidak mengetahui sosok AH, yang masih menjadi kader sebuah partai dan belum menjadi menteri.

“Setelah perkenalan itu, kita akhirnya menjalin komunikasi dan pertemanan hingga tahun 2013,” tuturnya.

Namun menurut Rifa, pada tahun 2013 dirinya mendapat masalah akibat hubungan dan komunikasi dengan AH.

“Tiba-tiba pada pertengahan tahun 2013, Juni masalah datang. Saya mendapat teror dan intimidasi dari AH dan saya blok nomor AH,” kata Rifa.

Akan tetapi selang beberapa bulan kemudian, intimidasi kembali datang dari sang istri AH yakni YA.

“YA juga meneror saya di media sosial melalui direct message,” ungkapnya dan karena terus diteror, Rifa akhirnya menceritakan masalah tersebut ke sang suami, yang akhirnya melakukan konfirmasi ke AH.

“Saya sebenarnya takut menceritakan hal ini ke suami karena saya mau gak mau menceritakan tentang aib saya juga ke suami. Tapi karena saya tidak tahan diteror, saya harus menceritakan hal ini ke suami,”paparnya.

Akhirnya, lanjut Rifa, sang suami menelepon AH untuk melakukan pertemuan. “Suami saya melakukan pertemuan, mencoba mengkonfirmasi hubungan khusus antara saya dan AH yang berakhir teror kepada diri saya,” ujar Rifa.

“Dalam pertemuan tersebut, AH mengakui bahwa dirinya memiliki hubungan khusus dengan saya dan melakukan teror kepada saya karena emosi,” kata Rifa.

Guna memastikan keselamatan dirinya, sang suami pun minta surat pernyataan dari AH namun ditolaknya. Lantaran tidak menemui titik temu, permasalahan tersebut akhirnya menguap begitu saja.

Lanjut Rifa, masalah kembali terkuak di tahun 2016 hingga saat ini kata dia, istri dari AH yakni YA, kembali melakukan teror kepada dirinya di media sosial bahkan melayangan somasi dengan tuduhan, bahwa dirinya memeras AH.

BACA JUGA  Kunjungi Polda Riau, Pangdam Bukit Barisan : Sinkronkan Pembangunan Daerah

“Nah, disitu emosi suami saya kembali naik. Lantaran mencemaskan keselamatan saya, suami meminta saya menyelesaikan masalah ini hingga tuntas,” terang Rifa.

“Berdasarkan hal itu, akhirnya saya memutuskan melaporkan hal ini ke Mabes Polri dan Komnas HAM untuk meminta perlindungan hukum, biar nanti publik yang menilai siapa yang salah siapa benar,” pungkasnya.

Source : Jitunews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.