Pakar Intelijen Polri Bicara Skenario AS Mundur dari Afganistan

Menkopolhukam, Jenderal TNI (purn) Wiranto (tengah) memasang pin Badan Nasional Penanggulangan Terorisme kepada mantan kepala BNPT Irjen Pol (purn) Drs. Ansyaad Mbai, MM (kanan) dengan disaksikan Kepala BNPT Komjen Pol Suhardi Alius (kiri) saat mengikuti rapat kelompok ahli BNPT di kantor BNPT, Senin (24/10/2016). Pemasangan pin ini sekaligus sebagai tanda pengankatan Ansyaad Mbai sebagai anggota kelompok ahli BNPT, (Foto : Dok. BNPT)

JAKARTA – Amerika Serikat menarik mundur pasukannya dari Afganistan setelah 20 tahun menduduki negara pecahan Uni Soviet tersebut. Sikap AS tersebut dianggap sebagai kekalahan oleh beberapa pihak setelah Taliban menduduki pemerintahan.

Mantan Kepala BNPT, Ansyaad Mbai menilai, sikap AS menarik mundur pasukannya tidak bisa dianggap sebagai kekalahan, lantaran AS sudah memiliki rencana sejak lama untuk menarik seluruh pasukannya tersebut.

“Masalah Afganistan ya tidak bisa kita lihat seperti seakan-akan kekalahan Amerika. Tapi memang sudah skenario mereka akan mundur, dan ini bukan sejak Trump, sejak Obama,” ucap Ansyaad dalam acara diskusi virtual bertemakan ‘Taliban Bermuka Dua Ke Indonesia?’ pada Minggu (5/9) seperti dikutip RMOL

Ansyaad yang mantan Kepala Badan Intelijen Polri itu mengurai, saat Obama menang dalam kampanye Pilpres AS dulu ada satu tema kampanye yang diagaungkan, yaitu “Chain We Can”, yang dapat didefinisikan sebagai kebijakan luar negeri dalam penanganan masa-masa terorisme di Timur Tengah.

Kemudian, Obama juga mengedepankan misi Leading From Behind yang mengandung arti tidak mau secara frontal terhadap kelompok radikal dan terorisme di negara tersebut.

Tapi di era Trump, Ansyaad melihat langkah kebijakan yang berbeda. Yaitu, pasukan militer AS akan ditarik pemerintah dari Afghanistan, yang kemudian baru direalisasikan oleh Presiden Joe Biden.

BACA JUGA  Siap-Siap, Bulan Depan Ada Lembaga Baru Pantau Tambang Ilegal

“Biden merealisasikan itu semua. Ini sebetulnya Amerika tidak lagi ingin berurusan secara langsung di sana, karena pasti dipecundangi terus, kita lihat saja tahu-tahu sekarang sudah kelihatan kan tentara Afganistan justru ke Taliban. Jadi itu yang perlu kita lihat di sana,” katanya.

Menurutnya, kontelasi kelompok Taliban yang akan berubah dalam menjalankan sistem pemerintahan Afghanistan akan mempengruhi seluruh Timur Tengah bahkan dunia. Ansyaad pun menilai dipilihnya Doha untuk tempat berdiplomasi memiliki arti sendiri.

“Kenapa Doha? Doha ini kita kenal pak Qatar, ini adalah heaven-nya kelompok radikal. Ikhwanul Muslimin di jaman Gamal Abdul Nasser itu keras karena mereka mau kudeta lari semua, ditampung di Qatar. Dengan alasan itulah, sampai saat ini gunakan negara teluk Arab Saudi, Uni Emirat Arab itu mengisolir Qatar, tapi Qatar didukung penuh oleh Iran,” katanya.

“Nah ini kan lucu, Iran ini di mana nih? Terutama secara fisik ini masalah Taliban kok bisa kompak dengan tentaranya, yang mendepak presidennya pergi mempercepat Amerika pergi. Ini Iran di mana ini? Dan Pakistan,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.