Pengusaha di Padang Laporkan Dugaan Penipuan Sewa Ruko Ratusan Juta ke Polda Sumbar

PADANG, KABARPOLISI.COM
Seorang pengusaha MUDA asal Padang, H. Erick Hariyona, melaporkan dua pria berinisial M dan K ke Polda Sumatera Barat atas dugaan penipuan dan penggelapan uang sewa ruko senilai Rp 400 juta.

Kasus ini bermula ketika Erick menyewa tiga petak ruko dua lantai di Padang dengan nilai kontrak Rp 750 juta selama lima tahun, namun belakangan diketahui bahwa ruko tersebut memiliki lebih dari satu pemilik.

Janji Manis Berujung Masalah

Laporan polisi bernomor LP/B/218/XI/2024/SPKT/POLDA SUMATERA BARAT yang dibuat pada 20 November 2024 mengungkap bahwa kejadian ini bermula pada 9 Juni 2021. Erick, yang saat itu tengah mencari tempat usaha, tertarik menyewa ruko yang ditawarkan oleh Muchlis Kamener dan Kaminardi.

Keduanya meyakinkan Erick bahwa mereka adalah pemilik sah bangunan tersebut dan tidak akan ada kendala hukum atau kepemilikan selama masa sewa berlangsung.

Erick pun menyepakati perjanjian sewa dengan nilai total Rp 750 juta untuk lima tahun, atau Rp 150 juta per tahun. Tanpa curiga, ia menyerahkan uang sebesar Rp 400 juta kepada kedua terlapor sebagai pembayaran awal. Namun, masalah mulai muncul setahun kemudian, tepatnya pada tahun 2022.

Pemilik Lain Muncul, Sewa Bermasalah

Setelah setahun menyewa dan menempati ruko tersebut, Erick dikejutkan oleh kedatangan pihak lain yang mengaku sebagai pemilik sah bangunan tersebut. Orang-orang yang mengklaim sebagai pemilik asli ini menyatakan bahwa kesepakatan sewa antara Erick dengan Muchlis Kamener dan Kaminardi dilakukan tanpa sepengetahuan mereka.

Tak hanya itu, mereka juga meminta Erick untuk membayar sewa ruko langsung kepada mereka di tahun-tahun berikutnya, bukan kepada Muchlis Kamener dan Kaminardi. Hal ini membuat Erick terjebak dalam situasi sulit, karena ia sudah menyerahkan uang dalam jumlah besar kepada dua orang yang sebelumnya mengaku sebagai pemilik.

Setelah menyelidiki lebih lanjut, Erick akhirnya mengetahui bahwa ruko tersebut ternyata dimiliki oleh tujuh orang berbeda sesuai dengan sertifikat hak milik (SHM) No. 746 atas nama keluarga pemilik asli. Dengan kata lain, perjanjian sewa yang dibuatnya dengan Muchlis Kamener dan Kaminardi hanya sah sebagian dan tidak mendapatkan persetujuan dari pemilik lainnya.

Ruko Disegel Sepihak, Erick Merugi

Permasalahan semakin memanas ketika Muchlis Kamener melakukan tindakan ekstrem dengan menggembok ruko tersebut secara sepihak. Akibatnya, Erick merasa ditipu oleh bujuk rayu selama ini, kehilangan akses ke tempat usahanya dan mengalami kerugian besar.

Tak terima dengan perlakuan ini, ia akhirnya mengambil langkah hukum dengan melaporkan kedua terlapor ke Polda Sumatera Barat.

Namun Laporan Polisi tersebut tidak di gubris oleh muchlis dan kaminardi , bahkan 2 kali tidak menghadiri undangan dari Polda Sumbar , tanpa ada pemberitahuan kepada pemilik barang , aset milik erick yang di dalam di buka paksa dengan cara merusak, membuang serta menghilangkan aset milik usaha warung king resto dsb.

setelah pengaduan muchlis melanjutkan pengrusakan di dalam tempat usaha nya tsb

Dalam laporannya, Erick menuding Muchlis Kamener dan Kaminardi telah melakukan tindak pidana penipuan dan penggelapan sebagaimana diatur dalam Pasal 378 dan Pasal 372 KUHP. Ia berharap kepolisian segera menindaklanjuti laporan ini dan memberikan keadilan atas kerugian yang ia alami dan menindak cara premanisme ini

Kepolisian Selidiki Kasus

Polda Sumatera Barat kini tengah menyelidiki laporan ini dengan memanggil saksi-saksi terkait, termasuk pihak yang mengaku sebagai pemilik asli ruko. Polisi juga akan mengecek dokumen kepemilikan ruko guna memastikan legalitas perjanjian sewa yang dibuat antara Erick dan terlapor.

Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, pihak Muchlis Kamener dan Kaminardi belum memberikan tanggapan terkait tuduhan yang dilayangkan terhadap mereka.

Kasus ini menjadi peringatan bagi masyarakat, terutama bagi para pelaku usaha yang ingin menyewa properti.

Sebelum melakukan transaksi sewa-menyewa, penting untuk memverifikasi legalitas kepemilikan dan memastikan semua pemilik sah terlibat dalam perjanjian.

Kejadian yang menimpa Erick menunjukkan bahwa tanpa kehati-hatian, seseorang bisa menjadi korban penipuan yang merugikan secara finansial dan operasional.

Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Susmelawati Rosya belum berhasil dikonfirmasi soal kasus ini. Begitu juga Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sumbar Polda Sumbar, Kombes Pol Andri Kurniawan juga belum berhasil ditemui.

Disamping melaporkan kasus dugaan penipuan yang merugikan dia, Erick juga akan melaporkan tindak pidana perusakan yang dilakukan Muchlis Kamener.

“Kami dan Tim hukum juga gugat perdata. Kami minta hakim mensita jaminan restoran tersebut,” kata Erick Hariyona yang juga salah satu pendiri media online kabarpolisi.com (Ceko)