Polri : Tak Gunakan Narkoba, Bandar Dijerat dengan TPPU

Krisno Halomoan Siregar

Jakarta – Kasus penyalahgunaan narkotika masih terus terjadi. Hal itu membuat Polri terus menggencarkan penyelidikan untuk mencari bandar yang mengedarkan zat terlarang tersebut.

Direktur Tindak Pidana (Dirtipid) Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Pol Krisno Halomoan Siregar mengatakan salah satu alasan bandar narkoba sulit ditangkap ialah karena mereka bukan pengguna narkoba.

“Pengalaman saya, kenapa bandar itu susah ditangkap. Karena mereka kalau bandar yang pintar, mereka enggak pakai [narkoba],” kata Krisno kepada wartawan, Kamis (16/12).

Dia tidak menerangkan kenapa bandar tidak mau pakai narkoba. Namun menurutnya, bandar yang sulit ditangkap justru tidak mau mengkonsumsi narkoba.

“Makin bandar dia enggak mau, barang [narkotika] ada padanya pun,” kata Krisno.

Maka itu Direktorat Tindak Pidana (Dittipid) Narkoba Bareskrim Polri menjerat para bandar dengan UU Tindak Pidana Pencucian Uang. Hal ini tentu berbeda dengan para pemakai narkoba yang dijerat dengan UU Narkotika dan pemberian rehabilitasi.

“Rehabilitasi itu penyalahguna,” pungkasnya.

Dittipid Narkoba Bareskrim Polri hari ini mengungkap kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dari hasil kejahatan narkotika dan penjualan obat ilegal dengan total nilai aset dan barang sitaan mencapai Rp 338 miliar.

Dari kasus TPPU itu, telah ditetapkan 7 orang tersangka dengan inisial ARW, HS, SD, DSR, EP alias Y, LFS alias C dan FT.

BACA JUGA  Siap-Siap, Bulan Depan Ada Lembaga Baru Pantau Tambang Ilegal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.