Solidaritas Aktivis 98 : Polda Sumbar Harus Segera Tangkap Penusuk Aznil

Sayed Junaidi Rizaldi, juru bicara Solidaritas Aktivis 98 untuk Aznil (Foto Istinewa)

Jakarta, kabarpolisi.com – Kepolisian Daerah Sumatera Barat diminta untuk segera menangkap pelaku penusukan Aznil, aktivis mahasiswa 98 yang terjasi di lingkungan Masjid Raya Tiku, Agam, Sumatera Barat, Rabu (22/3/2017).

Hal tersebut disampaikan Sayed Junaidi Rizaldi, juru bicara Solidaritas Aktivis 98 untuk Aznil seusai menyambangi markas Bareskrim Polri di Jakarta, Kamis (23/3/2017).

Sayed dan sejumlah aktivis 98 menyambangi Mabes Polri, untuk mendesak Polri – khususnya Polda Sumbar – menangkap dan memproses pelaku penusukan Aznil. Akibat penganiyaan ini Aznil yang juga aktivis Pospera dan Presidium PENA 1998 itu, mengalami luka parah di perutnya. Untung nyawa Aznil masih bisa diselamatkan.

“Hanya karena dinilai pernyataannya membela Ahok, dan membela Ahok adalah tindakan yang dikategorikan Kafir sehingga layak dibunuh. Ini sangat mengerikan”, ujar Sayed Junaidi Rizaldi kepada Zaidina Hamzah wartawan kabarpolisi.com, Kamis (23/03/2017) di Bareskrim Polri, Jakarta.

Menurut Sayed, kasus yang menimpa Aznil bisa terjadi pada siapapun. “Karena beda dukungan lantas melakukan penghakiman dengan jalan kekerasan. Negara tidak boleh tunduk atas kebencian SARA,” tegasnya.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa Aznil yang merupakan seorang muslim, ditikam di teras masjid usai sholat Isya oleh jamaah lainnya hanya karena sikap Aznil dalam melihat Pilkada DKI.

Menurut Sayed, Kalau sebelumnya konflik dikhawatirkan terjadi antar agama, antar suku dan antar golongan, kini konflik ternyata tidak lagi pandang bulu, satu agama pun bisa dibunuh jika berbeda pandangan terkait Pilkada DKI.

Hal ini menunjukkan bahwa kebencian yang terbangun sebagai dampak dari masifnya kampanye dengan menggunakan isu SARA telah meracuni akal sehat pelaku sehingga siap melakukan apapun untuk mencapai tujuannya.

Tidak sekedar melakukan kekerasan verbal, namun juga fisik bahkan membunuhpun rela dilakukan atas nama kepentingan kelompok belaka, ungkap Sayed.

Lebih jauh lagi kata dia, melihat lokasi peristiwa yang jauh dari DKI maka dapat disimpulkan bahwa penyebaran kebencian dan isu SARA ini sudah sangat masif dan dikhawatirkan juga masuk di sekolah hingga meracuni generasi muda kita.

Terkait dengan semua uraian diatas. Untuk mencegah ‘aznil aznil’ lain berjatuhan, untuk memadamkan api kebencian dan racun SARA yang terlanjur disebarkan maka mau tidak mau Negara harus bertindak tegas.

Berikut pernyataan Solidaritas Aktivis 98 :

Pertama, Agar Polisi mengusut tuntas pelaku penikaman terhadap saudara Aznil dan memberikan hukuman tegas terkait tindakan kriminal yang dilakukan.

Kedua, Agar polisi dan istansi terkait bersikap tegas menindak para pelaku penyebar SARA dan ujaran kebencian yang terbukti telah merusak kedamaian yang selama ini terjaga.

Ketiga, Jika polisi dan instasi terkait membiarkan hal itu maka bisa dikatakan polisi dan instansi terkait melakukan pelanggaran HAM dengan bentuk pembiaran terjadinya intimidasi terhadap hak hak politik Rakyat.

Keempat, Menuntut negara untuk melindungi setiap perbedaan sikap politik dan keyakinan ber Agama agar bebas dari intimidasi.

Kelima, Meminta seluruh Rakyat Indonesia khususnya Rakyat Jakarta untuk tetap bersatu, bergandengan tangan melawan adu domba, provokasi SARA dan penyebaran kebencian. Demikian Sayed yang juga Ketua Rumah Gerakan 98 ini (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.