LUWU – Dibalik ketegasan deru kendaraan di jalan raya dan dinamika pengamanan wilayah hukum Polres Luwu, terselip sebuah kisah pengabdian yang memadukan ketegasan hukum dengan kelembutan nurani seorang ibu. Dialah IPDA Utari Hara Pratiwi, S.E., satu-satunya perwira Polisi Wanita (Polwan) yang bertugas di jajaran Polres Luwu, Polda Sulawesi Selatan.
Sosok Utari hadir bukan sekadar sebagai simbol penegak hukum berseragam cokelat, tetapi juga sebagai motor penggerak kedekatan Polri di tengah masyarakat—khususnya kalangan generasi muda.
Perjalanan Karier dan Keteguhan di Lapangan lahir di Kabupaten Barru pada 28 September 1990, Utari mengawali langkah pengabdiannya di Korps Bhayangkara setelah menyelesaikan pendidikan Diktukba Polwan pada tahun 2009.
Perjalanan kariernya ditempa melalui berbagai penugasan strategis. Sebelum dipercaya mengemban jabatan sebagai Kepala Unit Pengaturan, Penjagaan, Pengawalan, dan Patroli (Kanit Turjawali) Satlantas Polres Luwu, ia pernah mengisi posisi penting sebagai Kaurbinopsnal Satintelkam serta Kaurbinopsnal Satlantas Polres Luwu.
Setelah merampungkan pendidikan Sekolah Inspektur Polisi (SIP) pada tahun 2025, ia resmi mengemban amanah sebagai Kanit Turjawali terhitung sejak 29 Januari 2026.
Tanggung jawab ini tentu bukan perkara ringan. Ia memimpin langsung operasional turjawali serta penindakan terhadap berbagai potensi pelanggaran lalu lintas dan aksi meresahkan seperti balap liar di kawasan Belopa dan sekitarnya.
Namun, di balik tantangan memimpin regu operasional yang seluruh anggotanya adalah laki-laki, Utari membuktikan bahwa kepemimpinan yang berlandaskan kekompakan dan komunikasi efektif mampu mencairkan segala hambatan.
“Bangga jadi Kanit karena bisa memimpin tim sendiri. Alhamdulillah anggota saya semuanya laki-laki, tapi tetap kami bisa solid dan kompak,” ungkap Utari.
Polisi Sahabat Pelajar dan Pengendara
Bagi Utari, penegakan hukum di jalan raya tidak boleh berdiri sendiri; ia harus berjalan beriringan dengan edukasi humanis. Bersama rekan-rekan Polwan Polres Luwu, ia kerap turun langsung ke sekolah-sekolah menyapa para pelajar. Tujuannya jelas: menanamkan kesadaran tertib berlalu lintas dan budaya keselamatan sejak usia dini.
Pendekatan serupa ia terapkan saat berada di lapangan. Ketika melaksanakan pemeriksaan kendaraan (sweeping) atau pengaturan rutin, ia tidak sekadar menindak pelanggaran, tetapi juga memberikan pemahaman edukatif kepada para pengendara agar senantiasa mengutamakan keselamatan diri dan orang lain.
Harmoni Peran: Perwira Tangguh dan Ibu Tiga Anak
Di balik kiprah profesionalnya yang padat di lapangan, Utari menyimpan sisi lain yang tak kalah inspiratif. Ia adalah seorang istri dan ibu bagi ketiga anaknya.
Baginya, peran sebagai abdi negara dan ibu rumah tangga bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya adalah panggilan jiwa yang dijalani dengan penuh keseimbangan. Jika di jalan raya ia mengatur arus lalu lintas dan ketertiban umum, maka di rumah ia berperan sebagai pengatur harmoni dan kehidupan keluarga.
Ia mengakui bahwa dukungan penuh dari suami dan anak-anaknya menjadi sumber kekuatan terbesar dalam menjalani tugas kepolisian yang kerap menyita waktu dan tenaga.
Menyalakan Prinsip Pengabdian
Perjalanan panjang dari seorang gadis yang bercita-cita menjadi Polisi Wanita hingga kini menyandang pangkat Inspektur Polisi Dua (IPDA) dijalani Utari dengan penuh rasa syukur. Prinsip hidupnya sederhana namun sarat makna: bekerja dengan ikhlas, membantu semaksimal mungkin, dan mempermudah urusan masyarakat.
Kisah Utari Hara Pratiwi menjadi pengingat kuat bahwa esensi pengabdian seorang Polwan tidak diukur dari seragam atau jabatan semata, melainkan dari seberapa besar kehadiran mereka mampu memberikan rasa aman, inspirasi, dan manfaat nyata bagi sesama.(MR88)













